Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ibu Negara Dipentaskan di Ladaya Tenggarong, Meta-Teater yang “Menelanjangi” Kondisi Sosial dan Kekuasaan Negeri

E
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

Advertisement

BANGSA kita bangsa besar. Kalimat ini menggema di penjuru Nusantara, keluar dari mulut seorang pemimpin bangsa—memerankan sosok patriotik dan penyelamat. Berkali-kali ia mengucapkan itu, seolah semua baik-baik saja. Padahal nyatanya, kita semakin melemah—sama seperti mata uang negara.

PROKAL.CO, TENGGARONG – Cobaan yang dihadapi seorang Warga Negara Indonesia (WNI) kian semakin berat. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, pendapatan yang tak selalu bertambah, hingga kesempatan ekonomi yang terasa semakin sempit melahirkan kegelisahan di berbagai lapisan masyarakat.

Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
 

Advertisement

Dari ojek online yang kesulitan mencari orderan. Pedagang kopi yang terpaksa menaikkan harga dagangan karena harga bahan tinggi sehingga membuat pembeli berkurang. Di tengah situasi tersebut, pemerintah kerap menyampaikan capaian dan indikator pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan kondisi positif. 

Namun bagi sebagian warga, angka-angka itu belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang inilah lahir pertanyaan, diskusi, sekaligus kritik terhadap realitas yang sedang berlangsung. Kegelisahan itu kemudian menemukan jalannya melalui seni.

Sebagai medium yang kerap digunakan untuk merekam dan menyuarakan realitas sosial, teater menjadi ruang bagi kritik untuk hadir dalam bentuk yang lebih reflektif. Dari keresahan tersebut, komunitas seni teater lokal di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menghadirkan sebuah pertunjukan yang mencoba membaca ulang relasi antara kekuasaan, citra, dan kenyataan.

Advertisement

Bertajuk “Ibu Negara”, lakon produksi Yayasan Lanjong Indonesia itu dipentaskan secara terbatas di Taman Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong, Senin (1/6/2026) malam. Naskah karya Ab Asmarandana tersebut dibangun dalam format meta-teater, sebuah pendekatan yang membuat pertunjukan sadar akan dirinya sendiri sebagai sebuah panggung. 

Di dalamnya, hadir sosok pemimpin yang mengetahui bahwa dirinya sedang memainkan peran. Seorang figur yang hidup di antara tepuk tangan, dipelihara oleh ketakutan, dan tumbuh di tengah manusia-manusia yang terlalu lama mempercayai citra.

Di bawah cahaya bulan yang menggantung di langit Tenggarong dan udara malam yang sejuk, panggung sederhana berdiri di hadapan penonton. Tiga bingkai besar dan sebuah kursi goyang tua menjadi elemen utama tata artistik, menghadirkan kesan simbolik yang kuat tanpa banyak properti.

Sorot lampu panggung menyapu ruang pertunjukan yang temaram. Para penonton yang memenuhi Amphiteater Ladaya duduk dalam keheningan, mengikuti setiap dialog yang dilontarkan para pelakon. Seorang “Raja” dan tiga peliharaannya yang diperankan para aktor sesekali mengundang tawa pecah ketika satire dan sindiran mereka disampaikan melalui celotehan yang ringan, namun tak kehilangan ketajamannya.

Penuh kesadaran akan realita yang ada, meta-teater Ab Asmarandana ini berhasil membuat seluruh penonton dari berbagai kalangan terduduk hingga akhir. Pria yang akrab disapa Kang Abuy ini menyebut teater ini tercipta dari fenomena yang sedang terjadi. Dari segala hal yang telah dirasakan dan dialaminya, teater ini adalah sikap Abuy terhadap semua fenomena ini.

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Wajib Belajar Prasekolah 1 Tahun di Kukar, Bunda PAUD Minta Desa Jemput Bola

Wajib Belajar Prasekolah 1 Tahun di Kukar, Bunda PAUD Minta Desa Jemput Bola

Publikasi dan Sosialisasi Strategi Pelaksanaan Wajib Belajar 1 Tahun Pendidikan Prasekolah Tahun 2026 di Pendopo Odah Etam (Elmo/Prokal.co)

Dukung Operasi Patuh Mahakam, Dishub Kukar Siapkan Personel hingga Pemeriksa Kelaikan Kendaraan

Dukung Operasi Patuh Mahakam, Dishub Kukar Siapkan Personel hingga Pemeriksa Kelaikan Kendaraan

Kadishub Kukar Ahmad Junaidi mendampingi Kapolres AKBP Khairul Basyar dan Dandim Letkol Arm Benny Budiman saat apel Operasi Patuh Mahakam (E

Operasi Patuh Mahakam 2026 di Kukar Hingga 8 November, Lima Wilayah Rawan Kecelakaan Jadi Prioritas

Operasi Patuh Mahakam 2026 di Kukar Hingga 8 November, Lima Wilayah Rawan Kecelakaan Jadi Prioritas

gelar pasukan Operasi Patuh Mahakam 2026 yang dipimpin Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar (Istimewa)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer