Ibu Negara Dipentaskan di Ladaya Tenggarong, Meta-Teater yang “Menelanjangi” Kondisi Sosial dan Kekuasaan Negeri

BANGSA kita bangsa besar. Kalimat ini menggema di penjuru Nusantara, keluar dari mulut seorang pemimpin bangsa—memerankan sosok patriotik dan penyelamat. Berkali-kali ia mengucapkan itu, seolah semua baik-baik saja. Padahal nyatanya, kita semakin melemah—sama seperti mata uang negara.
PROKAL.CO, TENGGARONG – Cobaan yang dihadapi seorang Warga Negara Indonesia (WNI) kian semakin berat. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, pendapatan yang tak selalu bertambah, hingga kesempatan ekonomi yang terasa semakin sempit melahirkan kegelisahan di berbagai lapisan masyarakat.

Dari ojek online yang kesulitan mencari orderan. Pedagang kopi yang terpaksa menaikkan harga dagangan karena harga bahan tinggi sehingga membuat pembeli berkurang. Di tengah situasi tersebut, pemerintah kerap menyampaikan capaian dan indikator pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan kondisi positif.
Namun bagi sebagian warga, angka-angka itu belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang inilah lahir pertanyaan, diskusi, sekaligus kritik terhadap realitas yang sedang berlangsung. Kegelisahan itu kemudian menemukan jalannya melalui seni.
Sebagai medium yang kerap digunakan untuk merekam dan menyuarakan realitas sosial, teater menjadi ruang bagi kritik untuk hadir dalam bentuk yang lebih reflektif. Dari keresahan tersebut, komunitas seni teater lokal di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menghadirkan sebuah pertunjukan yang mencoba membaca ulang relasi antara kekuasaan, citra, dan kenyataan.
Bertajuk “Ibu Negara”, lakon produksi Yayasan Lanjong Indonesia itu dipentaskan secara terbatas di Taman Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong, Senin (1/6/2026) malam. Naskah karya Ab Asmarandana tersebut dibangun dalam format meta-teater, sebuah pendekatan yang membuat pertunjukan sadar akan dirinya sendiri sebagai sebuah panggung.
Di dalamnya, hadir sosok pemimpin yang mengetahui bahwa dirinya sedang memainkan peran. Seorang figur yang hidup di antara tepuk tangan, dipelihara oleh ketakutan, dan tumbuh di tengah manusia-manusia yang terlalu lama mempercayai citra.
Di bawah cahaya bulan yang menggantung di langit Tenggarong dan udara malam yang sejuk, panggung sederhana berdiri di hadapan penonton. Tiga bingkai besar dan sebuah kursi goyang tua menjadi elemen utama tata artistik, menghadirkan kesan simbolik yang kuat tanpa banyak properti.
Sorot lampu panggung menyapu ruang pertunjukan yang temaram. Para penonton yang memenuhi Amphiteater Ladaya duduk dalam keheningan, mengikuti setiap dialog yang dilontarkan para pelakon. Seorang “Raja” dan tiga peliharaannya yang diperankan para aktor sesekali mengundang tawa pecah ketika satire dan sindiran mereka disampaikan melalui celotehan yang ringan, namun tak kehilangan ketajamannya.
Penuh kesadaran akan realita yang ada, meta-teater Ab Asmarandana ini berhasil membuat seluruh penonton dari berbagai kalangan terduduk hingga akhir. Pria yang akrab disapa Kang Abuy ini menyebut teater ini tercipta dari fenomena yang sedang terjadi. Dari segala hal yang telah dirasakan dan dialaminya, teater ini adalah sikap Abuy terhadap semua fenomena ini.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




