Kebanyakan kuliner malam yang diburu adalah makanan berat seperti nasi goreng, mi goreng, ayam lalapan dan ayam penyet. Selain makanan, warisan leluhur dalam kuliner pun banyak loh. Begitu banyak suguhan minuman tradisional yang berasal dari penjuru Indonesia.
Mulai dari isian kolak yang bervariasi, sekoteng, sarabba, ronde hingga wedang angsle. Nah, minuman-minuman yang hanya ditemui saat malam hari ini, belum banyak pula yang mengenalnya. Apalagi zaman anak sekarang.
Salah satunya minuman tradisional khas Malang, Jawa Timur ini. Mungkin sebagian orang sudah mencicipinya, lebih khususnya masyarakat lokal di Jawa Timur.
Berbeda lagi masyarakat dari Jawa Timur yang sudah lama merantau. Bisa jadi tidak mengenal, bahkan belum pernah mencicipi rasa manis dan hangatnya minuman yang satu ini.
Seperti yang dikatakan Owner Dapur Ummu Ayra, Revana Jian Aristya. Wedang angsle, atau yang lebih sering disebut angsle ini masih asing di telinga masyarakat. Jajanan khas Jawa Timur ini sering ditemui saat malam hari, atau saat cuaca dingin.
Disajikan selagi masih panas atau hangat, dapat menghangatkan tubuh yang dingin saat musim hujan atau malam hari. Sekaligus mengenyangkan.
“Yang dari Jawa pun ada yang nggak tahu wedang angsle itu apa. Karena di Tarakan banyak perantauan dari Jawa juga, jadi coba-coba buat wedang angsle ini. Kalau malam atau pas hujan, banyak yang cari,” terang wanita berhijab ini.
Nah, wedang angsle ini hampir mirip dengan wedang ronde. Sama-sama cocok dihidangkan saat cuaca dingin. Salah satu letak perbedaannya pada kuahnya. Wanita yang berusia 26 tahun ini melanjutkan, wedang ronde menggunakan tepung kanji yang dicampur dengan tepung beras. Untuk isiannya sendiri kacang ditumbuk bersama gula, disajikan dengan kuah jahe.
“Jadi kalau ronde dibikin seperti gerundulan, dan kuahnya pakai jahe. Kalau angsle beda, kuahnya santan dan gula, isiannya pakai ketan putih,” tutupnya. (*/one)
Editor : anggri-Radar Tarakan