Oleh: Suyanto, Warga Tengin Baru, Sepaku, IKN
PROKAL.CO, SEPAKU-Kopi salah satu tanaman yang sangat bergantung dengan iklim. Perubahan Iklim dapat memengaruhi tumbuh dan kembangnya tanaman kopi.
Iklim merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman kopi. Sehingga terjadi perubahan iklim memberikan dampak penurunan terhadap kuantitas dan kualitas produksi kopi.
Iklim yang tidak sesuai akan berdampak pertumbuhan dan perkembangan tidak normal. Daun menguning dan mudah rontok yang akan memengaruhi fotosintesi tanaman, bunganya juga suka rontok.
Percepatan dalam fase pertumbuhan dapat menurunkan kualitas, mudah terserang penyakit dan bahkan tanaman akan mati.
Oleh karena itu, suhu ideal untuk pertumbuhan kopi biasanya ditemukan di ketinggian sekitar 800 - 1.900 mdpl dengan suhu yang lebih dingin. Petani yang lahan mereka tidak sesuai dengan iklim ideal cenderung pindah ke daerah yang lebih tinggi dan lebih sejuk.
Akan tetapi, daerah-daerah tersebut seringkali adalah kawasan hutan lindung, yang berisiko mengalami konversi ilegal menjadi lahan perkebunan oleh petani kopi.
Kopi robusta dapat tumbuh pada ketinggian 0 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun kondisi terbaik untuk pertumbuhannya adalah pada ketinggian 400 hingga 800 mdpl.
Biasanya, kopi robusta ditanam pada ketinggian 400-700 mdpl, yang membuatnya lebih tahan terhadap panas. Kopi jenis ini juga lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit seperti karat daun dibandingkan dengan kopi arabika.
Kondisi iklim di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang kini masuk wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk iklim tropis basah. Musim penghujan tercatat turun merata sepanjang tahun.
Iklim dengan curah hujan merata sepanjang tahun dengan Kopi Liberika Sepaku membuat jenis ini bisa bertahan dan bahkan terus tumbuh liar di setiap ruang tumbuh.
Tegakan Kopi Liberika Sepaku tumbuh di sela-sela pohon sawit. Kelapa sawit dikenal menghabiskan air dan hara dengan jangkauan lebih 20 meter perakaran dapat ditembus dengan akar.
Topografi di Kecamatan Sepaku adalah perbukitan-perbukitan dan termasuk dataran rendah, berdasarkan pengukuran dengan aplikasi altimeter di android antar 25 sd 100 mdpl.
Di tempat ini Kopi Liberika Sepaku mampu tumbuh dan berbuah sangat bagus dan bisa tumbuh liar. Artinya kemampuan penyesuaian dengan iklim dan topografi sangat sesuai dan hingga 2022 mampu tumbuh kembang selama 45 tahun yang dihitung sejak awal transmigrasi di Sepaku pada 1977.
Dampak negatif perubahan iklim di Indonesia sangat nyata dan semakin memburuk akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Beberapa dampak yang terjadi meliputi:
1. Pengurangan curah hujan. Curah hujan tahunan di Indonesia telah berkurang sekitar 2 hingga 3 persen, dan musim hujan mengalami perubahan.
Hal ini dapat menyebabkan risiko kekeringan yang lebih tinggi, berdampak pada hasil pertanian, ketidakstabilan ekonomi, dan peningkatan jumlah orang yang mengalami kelaparan.
2. Banjir. Peningkatan curah hujan selama musim hujan dapat menyebabkan risiko banjir tinggi.
3. Kesehatan masyarakat. Perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Gelombang panas, banjir, dan kekeringan yang lebih sering dan parah dapat menyebabkan cedera, penyakit, dan kematian.
Selain itu, peningkatan suhu juga berkontribusi pada peningkatan kasus malaria dan demam berdarah serta penyakit menular lainnya akibat gangguan produksi pangan.
Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim karena tingginya kepadatan penduduk yang memerlukan energi, dan sumber energi yang masih didominasi oleh bahan bakar fosil.
Keanekaragaman hayati juga terancam oleh kebakaran hutan yang disebabkan oleh musim kemarau yang panjang. Jika kebakaran hutan terjadi berulang kali, hal ini akan mengancam keberadaan spesies flora dan fauna serta merusak sumber kehidupan masyarakat.
Kopi liberika dikenal memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim, menjadikannya unik dibandingkan dengan varietas arabika atau robusta. Asalnya dari Liberia, liberika menawarkan karakteristik tersendiri yang mungkin tidak sepopuler arabika, namun tetap dipilih oleh beberapa petani karena adaptasinya yang baik terhadap kondisi cuaca dan tanah yang beragam.
Baca Juga: Kopi Liberika Sepaku: Potensi Tersembunyi dari Ibu Kota Nusantara yang Siap Menjadi Primadona
Oleh karena itu, bagi Anda yang mencari jenis kopi yang resilien terhadap perubahan iklim, liberika dapat menjadi pilihan alternatif yang menarik.
Kopi Liberika di Sepaku juga dikenal paling bandel, baik terhadap cuaca dan kondisi lahan yang kurang subur.
Menurut petani kopi liberika yang sudah lebih 30 tahun menanam kopi jenis ini, tanaman kopi yang hidup di lingkungan sawit masih bisa bertahan dan dapat menyimpan air, terlihat masih lembab kondisi tanahnya.
Kehadiran kopi liberika dapat memperbaiki kesuburan tanah dan tidak terganggu dengan tegakan-tegakan lainnya, yang terlihat kopi liberika di bawah naungan akan tumbuh lebih baik dan subur.
Kopi iberika juga dijumpai di Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat (Kalbar) yang dikembangkan Politeknik Negeri Sambas.
Dibudidayakan di dataran rendah dan lahan gambut. Kopi ini menjadi pilihan komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan dibudidaya karena karakternya mampu tumbuh dan berbuah di lahan gambut yang tidak banyak tumbuhan bisa hibup di lahan itu.
Petani di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim, terutama dalam sektor pertanian. Salah satu solusi dan langkah-langkah yang dapat diambil adalah menggunakan varietas tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim.
Petani dapat memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, seperti varietas yang tahan kekeringan atau serangan hama. Ini akan membantu meningkatkan ketahanan pertanian dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin parah.
Kopi jenis liberika dapat menjadi alternatif untuk komoditas pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, dan bisa menjadi solusi terhadap keragaman hayati karena tumbuhnya adalah bersifat polikultur dan dapat memperbaiki lingkungan dan tetap menjadi nilai ekonomis. (far)
Klik dan follow>>
https://whatsapp.com/channel/0029VakiP19FCCoPh7YL3j02
Editor : Faroq Zamzami