Bukan Lagi Sekadar Buzzer: Saat AI Membuat Suara Palsu Terasa Seperti Mayoritas

Oleh: Said Gufroni Danur Wenda
Magang Kemenaker Pusjar SKPP LANRI
Pernah melihat sebuah unggahan politik yang tiba-tiba dipenuhi komentar dukungan? Hampir semua komentar terdengar senada. Ada yang memuji kebijakan pemerintah, ada yang menyerang pengkritik, dan ada pula yang mengaku sebagai warga biasa yang merasakan langsung manfaat sebuah program. Sekilas, semuanya terlihat seperti percakapan organik. Namun, pernahkah kita berpikir: apakah semua suara itu benar-benar berasal dari manusia yang berbeda?
Dulu, mengenali aktivitas buzzer relatif lebih mudah. Akun-akunnya terkadang memiliki pola komentar yang seragam, menggunakan kalimat berulang, atau muncul bersamaan untuk membicarakan isu tertentu. Sekarang, situasinya mulai berubah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memungkinkan produksi konten dengan bahasa yang lebih natural, persona yang berbeda, dan respons yang semakin menyerupai percakapan manusia.
Bayangkan sebuah akun yang mengaku sebagai ibu rumah tangga, menceritakan pengalaman mengelola usaha kecil, membahas harga kebutuhan pokok, kemudian menyelipkan dukungan terhadap kebijakan pemerintah. Akun tersebut aktif hampir sepanjang hari dan mampu membalas komentar dengan cepat. Apakah kita sedang berbicara dengan warga biasa, seseorang yang mengelola akun secara profesional, atau sistem AI yang menjalankan persona tertentu?
Pertanyaan ini bukan lagi sekadar cerita fiksi teknologi. Perkembangan AI telah membuka kemungkinan baru dalam manipulasi percakapan digital. Persoalannya bukan hanya siapa yang berbicara, tetapi apakah suara yang kita lihat benar-benar merepresentasikan opini masyarakat.
Buzzer Berevolusi, Bukan Sekadar Berganti Teknologi
Fenomena buzzer sebenarnya bukan hal baru dalam politik Indonesia. Penggunaan jaringan akun media sosial untuk memperkuat pesan, membangun citra, dan memengaruhi persepsi publik telah lama menjadi bagian dari dinamika komunikasi politik.
Penelitian Wijayanto dan kolega yang diterbitkan dalam The International Journal of Press/Politics pada 2026 menunjukkan bahwa operasi pengaruh di media sosial Indonesia melibatkan jaringan kerja yang terorganisasi. Penelitian terhadap 52 orang yang terlibat dalam aktivitas tersebut menemukan adanya pembagian peran antara koordinator, pembuat konten, influencer, dan operator akun. Sebagian jaringan bekerja berdasarkan proyek, dengan pendanaan tersembunyi dan penggunaan akun anonim.
Artinya, industri manipulasi opini digital tidak selalu berjalan secara spontan. Ada pembagian tugas, koordinasi, kepentingan, bahkan mekanisme pendanaan di belakangnya. Kini, kehadiran AI berpotensi mengubah cara kerja jaringan tersebut. Jika sebelumnya produksi komentar membutuhkan banyak tenaga manusia, teknologi AI dapat membantu menyusun narasi, membuat variasi respons, mengembangkan karakter akun, dan mengotomatisasi interaksi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

