Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gaji Masuk, Semangat Kerja Hilang? Quiet Quitting dan Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Kartika Wulandari
Kartika Wulandari

Advertisement

 

Oleh: Kartika Wulandari

Magang Kemenaker Pusjar SKPP LANRI

Advertisement

Pukul 21.47, sebuah pesan WhatsApp dari atasan masuk ke telepon seorang karyawan: “Tolong revisi sedikit ya, besok pagi harus sudah selesai.” Padahal, jam kerja sudah lama berakhir. Besok pagi masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Situasi seperti ini mungkin terasa akrab bagi banyak pekerja muda.

Ada yang langsung membuka laptop. Ada yang membaca pesan, tetapi memilih membalasnya esok hari. Ada pula yang mulai berpikir: apakah setiap pekerjaan tambahan harus selalu diterima hanya karena kita ingin dianggap sebagai karyawan yang berdedikasi?

Di tengah situasi tersebut, muncul istilah quiet quitting. Istilah ini semakin sering dibicarakan ketika generasi muda mulai mempertanyakan hubungan antara pekerjaan, waktu pribadi, kompensasi, dan kesehatan hidup. Namun, apakah mereka benar-benar kehilangan etos kerja? Atau justru sedang mempertanyakan budaya kerja yang selama ini dianggap normal?

Advertisement

Bekerja Bukan Berarti Harus Selalu Tersedia

Quiet quitting sering disalahartikan sebagai tindakan berhenti bekerja secara diam-diam. Padahal, istilah ini tidak merujuk pada pengunduran diri, melainkan kecenderungan pekerja untuk menjalankan tanggung jawab sesuai kesepakatan tanpa terus-menerus memberikan usaha tambahan di luar kewajibannya.

Sederhananya, pekerjaan tetap diselesaikan, target tetap diupayakan, dan tanggung jawab tetap dijalankan. Bedanya, pekerja mulai menetapkan batas antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi. Tidak otomatis menjawab pesan kantor pada tengah malam bukan berarti malas. Menolak pekerjaan tambahan yang tidak jelas pembagian tugas dan kompensasinya juga tidak serta-merta menunjukkan rendahnya loyalitas.

Persoalannya terletak pada batas yang sering kali kabur: kapan dedikasi menjadi kontribusi profesional, dan kapan dedikasi justru dimanfaatkan sebagai alasan untuk menambah beban kerja tanpa penghargaan yang sepadan?

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer