Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dulu Paling Keras Mengkritik, Kini Masuk Istana: Ujian Integritas Rocky Gerung

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Alya Azrah Fahmi Achmad
Alya Azrah Fahmi Achmad 

Advertisement

Oleh: Alya Azrah Fahmi Achmad 

Magang Kemenaker Pusjar SKPP LANRI

Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun paling lantang mengkritik pemerintah, membongkar kelemahan kebijakan, bahkan mempertanyakan cara penguasa menjalankan kekuasaan. Tiba-tiba, orang yang sama justru mendapat tempat di lingkaran pemerintahan. Apa yang berubah: posisinya, pandangannya, atau cara ia memandang kekuasaan?

Advertisement

Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika Rocky Gerung resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026. Selama ini, Rocky dikenal sebagai pengamat yang kerap melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah. Kini, ia berada di dalam lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.

Rocky sendiri menegaskan bahwa dirinya hanya berpindah posisi, bukan mengubah pandangan. "Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break," demikian pernyataannya setelah pelantikan.

Pernyataan itu menarik, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah seseorang bisa tetap independen ketika sudah menjadi bagian dari kekuasaan yang dahulu dikritiknya?

Advertisement

Dari Oposisi Wacana ke Lingkar Kekuasaan

Dalam politik, mengkritik pemerintah dari luar dan memberikan kritik dari dalam merupakan dua situasi yang berbeda.  Ketika berada di luar pemerintahan, seseorang memiliki keleluasaan untuk menyampaikan ketidaksetujuan secara terbuka. Ia dapat mempertanyakan kebijakan, mengomentari keputusan politik, bahkan mengingatkan penguasa tanpa harus mempertimbangkan hubungan kelembagaan secara langsung.

Namun, ketika sudah berada di dalam pemerintahan, situasinya berubah. Ada tanggung jawab jabatan, hubungan kerja, kepentingan kelembagaan, dan dinamika politik yang harus dihadapi.

Bukan berarti seseorang otomatis kehilangan independensi setelah menerima jabatan. Justru, akses ke dalam pemerintahan dapat membuka kesempatan untuk menyampaikan kritik secara lebih langsung kepada pengambil keputusan.

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer