Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Militer AS Sudah Siap di Timur Tengah, Iran Nyatakan Ada Peluang untuk Kesepakatan yang Adil

Redaksi Prokal • 2026-02-26 08:00:00

USS Gerald R. Ford
USS Gerald R. Ford


Teheran mengirimkan sinyal kuat mengenai kesiapannya mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi militer yang kian mencekam. Pejabat senior Iran menegaskan niat baik mereka menjelang putaran ketiga negosiasi tidak langsung yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis ini.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa saat ini terdapat peluang bersejarah bagi kedua negara untuk mengakhiri kebuntuan panjang melalui kesepakatan yang adil. Ia menekankan bahwa diplomasi harus menjadi prioritas utama untuk mengakomodasi kepentingan bersama.

"Kami bertekad untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara dengan AS sesegera mungkin. Kesepakatan dapat dicapai jika diplomasi diprioritaskan," ujar Araghchi dalam pernyataan resminya.

Senada dengan Araghchi, Wakil Menlu Iran Majid Takht Ravanchi menegaskan keseriusan Teheran dalam meja perundingan. Ia berharap pendekatan positif Iran akan disambut dengan niat politik yang sama dari pihak Washington.

"Kami ingin melakukan apa pun yang diperlukan agar kesepakatan itu terwujud. Kami akan datang ke ruang negosiasi di Jenewa dengan ketulusan dan niat baik," tegas Ravanchi.

Namun, tawaran damai ini muncul di bawah bayang-bayang pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat. Sebelas jet tempur siluman F-22 dilaporkan telah mendarat di Israel, sementara kapal induk USS Gerald R. Ford telah memasuki Laut Mediterania untuk bergabung dengan armada tempur lainnya yang telah bersiaga di dekat wilayah Iran.

Menanggapi tekanan tersebut, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh memperingatkan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika diprovokasi. Sementara diplomat bicara soal damai, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru terpantau menggelar latihan pertahanan pantai besar-besaran di wilayah selatan.

"Kami tidak menginginkan perang, tetapi jika perang dipaksakan kepada negara ini, Iran akan membela diri dengan kuat dan memberikan pelajaran yang tak terlupakan bagi musuh-musuhnya," ujar Nasirzadeh.

Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden AS Donald Trump membantah kabar adanya keraguan dari pihak militer untuk menyerang Iran. Melalui media sosialnya, Trump bahkan mengklaim bahwa jika operasi militer dilakukan, kemenangan akan diraih dengan mudah, yang semakin memanaskan situasi menjelang pertemuan krusial di Jenewa. (*)

Editor : Indra Zakaria