KABUL — Di tengah eskalasi konflik yang kian memanas di wilayah perbatasan, pemimpin Afghanistan mengeluarkan pernyataan emosional yang ditujukan langsung kepada rakyat dan tokoh berpengaruh di Pakistan. Pernyataan ini muncul sebagai upaya untuk meredam ketegangan setelah adanya deklarasi "perang terbuka" yang melibatkan militer kedua negara di sepanjang Garis Durand.
Dalam seruannya, pihak Afghanistan menekankan ikatan persaudaraan sesama Muslim dan sejarah panjang penderitaan bersama yang dialami oleh kedua bangsa. Seruan ini dianggap sebagai langkah diplomasi akar rumput untuk menekan kebijakan militer Pakistan melalui pengaruh internal dari para ulama dan tetua bangsa.
"Pakistan adalah negara Muslim, negara yang taat beragama. Negara ini telah banyak menderita bersama dengan rakyat Afghanistan. Saya meminta bangsa Muslim Pakistan, para politisi, para ulama, para tetua bangsa untuk membuka pikiran tentara mereka sendiri," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Pihak Afghanistan juga menegaskan bahwa kekuatan mereka tidak terletak pada kemajuan alutsista atau energi, melainkan pada ketangguhan bangsa yang telah teruji oleh konflik selama puluhan tahun. Pesan ini menyiratkan bahwa peperangan antar sesama negara Muslim hanya akan menambah luka bagi kedua belah pihak yang selama ini sudah terbebani oleh krisis regional.
"Kita belum melawan tentara dunia, tank dunia, energi dunia dengan sumber daya dan peralatan, tetapi bangsa ini telah berjuang," tambahnya.
Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pemerintah di Islamabad terkait ajakan emosional tersebut. Namun, para pengamat menilai bahwa keterlibatan para ulama dan tokoh masyarakat di Pakistan akan menjadi kunci penting dalam menentukan apakah konflik ini akan berlanjut ke konfrontasi militer skala besar atau kembali ke meja perundingan. (*)
Editor : Indra Zakaria