Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Timur Tengah Membara: IRGC Gempur Israel Saat Trump Serukan Kejatuhan Rezim Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-01 06:00:00

Serangan balasan Iran terhadap Israel berupa rudal balistik dan drone yang diluncurkan menuju sejumlah target di Israel. (X)
Serangan balasan Iran terhadap Israel berupa rudal balistik dan drone yang diluncurkan menuju sejumlah target di Israel. (X)

 

PROKAL.CO- Ketegangan di Timur Tengah resmi meledak menjadi konfrontasi terbuka setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone besar-besaran ke jantung wilayah Israel pada Sabtu (28/2). Serangan ini memicu sirene tanda bahaya di seluruh penjuru Israel, memaksa jutaan warga bergegas ke ruang perlindungan bom. Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa operasi ini adalah aksi balasan langsung atas rentetan tindakan agresif yang dilakukan oleh "musuh kriminal".

Meski sistem pertahanan udara Iron Dome dikerahkan secara masif untuk mencegat proyektil yang masuk, eskalasi ini menandai berakhirnya era "perang bayangan" dan dimulainya konfrontasi militer langsung yang sangat berbahaya.

Situasi semakin tak terkendali ketika Amerika Serikat secara resmi mengumumkan keterlibatan langsungnya dalam operasi militer guna membela sekutu utamanya. Pesawat tempur jarak jauh dan rudal presisi AS dilaporkan telah menghantam sejumlah fasilitas strategis IRGC di pinggiran Teheran, memperlihatkan komitmen "besi" Washington terhadap keamanan Israel. Presiden Donald Trump memberikan ultimatum yang sangat keras kepada militer Iran agar segera menghentikan perlawanan.

"Letakkan senjata kalian dan dapatkan kekebalan penuh, atau jika tidak, hadapi kematian yang pasti," tegas Trump dengan nada mengancam. Tidak hanya itu, Trump juga secara terbuka menyerukan revolusi kepada rakyat Iran untuk menggulingkan kekuasaan Republik Islam yang telah bertahan sejak 1979. "Jam kebebasan Anda sudah dekat. Setelah operasi kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan bagi Anda selama beberapa generasi ke depan," ujarnya.

Pembalasan Iran tidak berhenti di wilayah Israel; mereka secara sengaja membidik titik-titik strategis yang menjadi markas militer AS di kawasan Teluk, termasuk Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar dan markas Armada Kelima di Bahrain. Dampak serangan ini langsung memakan korban jiwa di Uni Emirat Arab (UEA), di mana sedikitnya satu orang tewas di Abu Dhabi akibat intersepsi rudal. Pemerintah UEA mengutuk keras tindakan ini sebagai "pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional serta hukum internasional." Kepulan asap yang membumbung di langit Dubai dan Abu Dhabi memaksa otoritas penerbangan segera menutup wilayah udara sipil, langkah yang juga diikuti oleh Qatar dan Kuwait demi menghindari risiko lebih lanjut.

Kini, Timur Tengah berada di ambang perang regional berskala besar yang mengancam stabilitas politik serta ekonomi global, terutama sektor energi dunia. Suara ledakan yang bahkan terdengar hingga Riyadh, Arab Saudi, menunjukkan betapa luasnya jangkauan konflik ini dalam waktu singkat. Dengan posisi Washington yang sudah terlibat aktif dan ancaman terbuka dari kedua belah pihak, ruang bagi diplomasi tampak semakin menyempit. Dunia kini mengawasi dengan cemas apakah gempuran ini akan berakhir pada perubahan peta politik Timur Tengah atau justru menjadi awal dari kehancuran yang lebih luas bagi stabilitas internasional. (*)

Editor : Indra Zakaria