KARACHI – Gelombang aksi protes atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel, berujung tragedi di Pakistan. Sedikitnya sembilan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah pengunjuk rasa bentrok dengan polisi saat mencoba menerobos masuk ke Konsulat AS di Karachi.
Ratusan massa yang tersulut emosi bergerak menuju kawasan diplomatik di Karachi bagian selatan. Suasana menjadi tidak terkendali saat pengunjuk rasa mulai membakar pos pemeriksaan polisi dan ban di jalanan. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara, namun massa berhasil menjebol pertahanan keamanan.
Berdasarkan laporan medis, jumlah korban jiwa dan luka-luka cukup signifikan. Dr. Sabir Memon, Kepala Pusat Trauma di Rumah Sakit Sipil Karachi, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima jenazah dengan luka tembak.
"Jasad sembilan pengunjuk rasa dengan luka tembak dibawa ke rumah sakit ini. Sebanyak 32 korban luka dirawat di sini, sementara delapan lainnya dipindahkan oleh keluarga mereka ke rumah sakit swasta," ujar Dr. Sabir Memon, Senin (2/3/2026).
Kekerasan ini tidak hanya menyasar pengunjuk rasa. Dokter kepolisian, Dr. Summaiya Syed, menambahkan bahwa aparat keamanan juga turut menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. "Dua anggota polisi termasuk di antara puluhan korban luka dalam kejadian itu," jelasnya.
Sejumlah video yang viral di media sosial menunjukkan detik-detik mencekam saat pengunjuk rasa berhasil memasuki kompleks konsulat, memecahkan kaca jendela, dan membakar sebagian ruang resepsionis. Aksi serupa dilaporkan terjadi di Lahore, sementara kepolisian di ibu kota Islamabad telah melakukan blokade total menuju kawasan kedutaan besar asing untuk mencegah kerusuhan meluas.
Menanggapi insiden berdarah ini, pemerintah Provinsi Sindh segera mengambil langkah hukum dengan membentuk komite investigasi khusus untuk menyelidiki penyebab kematian para pengunjuk rasa dan kerusakan fasilitas diplomatik. Sambil menyampaikan duka cita, pemerintah setempat juga mengeluarkan imbauan keras kepada publik.
Pemerintah mendesak pengunjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi mereka secara damai tanpa merusak fasilitas publik maupun diplomatik. Hingga saat ini, penjagaan ketat masih diberlakukan di sekitar Konsulat AS guna mengantisipasi aksi susulan.(*)
Editor : Indra Zakaria