Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Presiden Trump: Perang AS-Israel Lawan Iran adalah Kesempatan Terakhir Musnahkan Ancaman Nuklir

Redaksi Prokal • 2026-03-03 09:15:00

Donald Trump
Donald Trump

WASHINGTON, D.C. – Dalam penampilan publik pertamanya sejak dimulainya kampanye militer akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Berbicara dalam upacara penyematan Medal of Honor di Gedung Putih pada Senin (2/3) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa operasi militer gabungan AS-Israel ini merupakan "kesempatan terbaik dan terakhir" untuk menghentikan ancaman rudal balistik serta program nuklir Republik Islam tersebut secara permanen.

Presiden Trump menyatakan bahwa keputusan untuk menyerang diambil setelah Iran berulang kali mengabaikan peringatan Amerika Serikat untuk menghentikan ambisi nuklir mereka. Ia menggambarkan pertumbuhan pesat program rudal balistik konvensional rezim Teheran sebagai ancaman kolosal yang sangat nyata bagi daratan Amerika Serikat serta pasukan yang ditempatkan di luar negeri. Menurutnya, kepemimpinan Iran saat ini sudah memiliki rudal yang mampu menjangkau Eropa serta pangkalan AS, dan dalam waktu dekat akan memiliki kemampuan untuk menyerang langsung ke wilayah domestik Amerika.

Dalam pidatonya, Trump menjabarkan empat tujuan utama dari misi militer ini yang sedang dijalankan secara agresif. Fokus pertama adalah penghancuran total kapabilitas rudal Iran dan kapasitas produksinya yang menurut presiden terus dipantau serta dihancurkan setiap jam. Target kedua adalah melumpuhkan kekuatan maritim Iran, di mana ia mengklaim sedikitnya sepuluh kapal perang Iran telah dikirim ke dasar laut. Tujuan ketiga dan keempat adalah memastikan Iran tidak akan pernah memperoleh senjata nuklir serta memutus aliran dana dan persenjataan dari rezim tersebut kepada kelompok-kelompok teroris di luar perbatasan mereka.

Terkait durasi konflik, administrasi Trump memproyeksikan kampanye udara ini akan berlangsung selama empat hingga lima minggu, meskipun ia menekankan bahwa militer AS memiliki kapabilitas untuk bertahan jauh lebih lama jika diperlukan. Trump juga menepis anggapan bahwa dirinya akan kehilangan minat jika perang berlangsung lama, dengan menegaskan bahwa ia tidak akan "bosan" dalam mengawal misi ini hingga tuntas.

Hal yang cukup menyita perhatian adalah sikap Trump yang menolak untuk mengesampingkan pengerahan pasukan darat atau boots on the ground. Dalam wawancara terpisah sebelumnya, ia menyatakan tidak akan ragu untuk mengerahkan pasukan infanteri jika situasi dianggap mendesak. Senada dengan presiden, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pengarahan Senin pagi juga menolak untuk merinci langkah taktis ke depan, meski ia mengonfirmasi bahwa saat ini belum ada personel militer AS yang berada di daratan Iran. Penguatan narasi ini menandakan kesiapan penuh Washington untuk memenangkan konflik ini dengan segala cara yang diperlukan. (*)

Editor : Indra Zakaria