MUSKAT – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mencekam dengan munculnya senjata mematikan di perairan strategis. Pemerintah Oman melaporkan sebuah kapal tanker minyak menjadi sasaran serangan drone laut atau kapal tanpa awak peledak (unmanned surface vessel), yang memicu ledakan hebat dan menelan korban jiwa, Senin waktu setempat.
Serangan tersebut menghantam kapal tanker MKD VYOM yang berbendera Kepulauan Marshall saat berada sekitar 52 mil laut di lepas pantai Oman. Hantaman drone laut itu tepat mengenai ruang mesin utama, memicu kebakaran besar dan ledakan yang menewaskan seorang kru berkebangsaan India. Sebanyak 20 kru lainnya, yang terdiri dari warga negara India, Bangladesh, dan Ukraina, berhasil dievakuasi oleh kapal komersial MV SAND yang melintas di lokasi kejadian.
Oman News Agency melaporkan bahwa kapal yang membawa muatan sekitar 59.463 metrik ton kargo tersebut kini dalam pengawasan ketat otoritas Oman untuk mencegah dampak lingkungan lebih lanjut. Meski pihak Oman tidak menyebutkan secara eksplisit siapa pemilik drone maut tersebut, penggunaan teknologi ini menambah daftar panjang ancaman di jalur perdagangan paling vital di dunia.
Kemunculan drone laut dalam konflik ini menandai perubahan taktik perang yang sangat berbahaya. Teknologi serupa sebelumnya menjadi sorotan dunia dalam perang Ukraina-Rusia, di mana aset berbiaya rendah mampu melumpuhkan kapal perang bernilai jutaan dolar. Kini, senjata yang sama mulai mengincar kapal-kapal dagang di sekitar Selat Hormuz—jalur yang dilewati 20 persen pasokan minyak harian dunia.
Situasi yang kian tak terkendali ini memaksa sejumlah perusahaan pelayaran raksasa dunia untuk menghindari kawasan tersebut demi keselamatan kru dan muatan. Dengan serangan yang terus terjadi sejak akhir pekan lalu, perairan Timur Tengah kini berubah menjadi zona merah yang mengancam stabilitas ekonomi global serta keselamatan navigasi internasional.(*)
Editor : Indra Zakaria