Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Macron Kecam Serangan AS-Israel ke Iran: "Dilakukan di Luar Kerangka Hukum Internasional"

Redaksi Prokal • 2026-03-05 10:25:00

Prancis Emmanuel Macron. (Christophe Ena/AP)
Prancis Emmanuel Macron. (Christophe Ena/AP)

PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pernyataan keras merespons eskalasi militer yang mengguncang Timur Tengah. Dalam pidato nasional yang disiarkan televisi pada Selasa (3/3/2026), Macron secara terbuka mengkritik operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Ia menegaskan bahwa langkah militer tersebut tidak memiliki legitimasi di bawah hukum internasional.

Sikap tegas pemimpin Prancis ini muncul di tengah situasi global yang kian memanas pasca serangan udara yang menargetkan sejumlah titik strategis di Teheran, yang dilaporkan menelan banyak korban jiwa dan memicu reaksi keras dari dunia internasional.

"Amerika Serikat dan Israel memutuskan untuk meluncurkan operasi militer. Operasi tersebut dilakukan di luar kerangka hukum internasional, sebuah tindakan yang tidak dapat kami setujui," tegas Macron dalam pidatonya yang diterjemahkan dari bahasa Prancis.

Meski mengecam serangan tersebut, Macron tetap memberikan catatan kritis terhadap posisi Iran. Ia menyatakan bahwa meskipun Prancis tidak menyetujui metode serangan AS-Israel, Teheran tetap memegang tanggung jawab utama atas eskalasi yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, tindakan-tindakan provokatif Iran sebelumnya telah menjadi sumbu utama yang memicu ledakan konflik di kawasan tersebut.

Pidato Macron ini mencerminkan posisi dilematis Eropa yang berupaya menjaga keseimbangan antara aliansi tradisionalnya dengan Amerika Serikat dan komitmen terhadap prinsip-prinsip hukum internasional. Prancis, sebagai salah satu kekuatan utama Uni Eropa dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, tampak berusaha mengambil peran sebagai penengah untuk mencegah perang terbuka yang lebih destruktif.

Komentar Macron ini diprediksi akan menimbulkan riak diplomatik dengan Washington dan Tel Aviv, mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra strategis Prancis. Namun, bagi Paris, penghormatan terhadap kedaulatan negara dan koridor hukum internasional tetap menjadi harga mati guna menghindari anarki global di tengah krisis energi dan keamanan yang kian mengancam.(*)

Editor : Indra Zakaria