Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Donald Trump Klaim Kemenangan atas Iran dan Beri Teguran Keras bagi Inggris Raya

Redaksi Prokal • 2026-03-08 06:55:00

Donald Trump dan PM Inggris, Keir Starmer.
Donald Trump dan PM Inggris, Keir Starmer.

WASHINGTON — Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan panggung diplomasi global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa konflik dengan Iran telah "dimenangkan" oleh pihak Amerika. Namun, yang menjadi sorotan utama bukanlah sekadar klaim kemenangan tersebut, melainkan pesan tajam yang ia tujukan kepada salah satu sekutu terdekat AS, Inggris Raya.

Presiden Trump secara terbuka menyindir langkah pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer yang baru saja mempertimbangkan pengiriman armada tempur ke kawasan Timur Tengah. Baginya, bantuan militer dari London saat ini sudah terlambat dan tidak lagi diperlukan oleh Washington.

"Inggris Raya, sekutu besar kita di masa lalu, mungkin yang terhebat dari semuanya, akhirnya mempertimbangkan dengan serius untuk mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah," ujar Trump dengan nada sarkastis.

Ketegasan Trump semakin memuncak saat ia menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan kehadiran militer sekutunya dalam fase konflik saat ini. Ia bahkan memberikan peringatan tersirat bahwa sikap ragu-ragu Inggris akan berdampak pada hubungan bilateral kedua negara di masa depan.

"Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kita tidak lagi MEMBUTUHKAN mereka — Tetapi kita akan mengingatnya," tegas sang Presiden, menekankan kekecewaannya terhadap kecepatan respons London.

Pernyataan ini mencerminkan kebijakan luar negeri Trump yang transaksional dan mengutamakan kekuatan mandiri Amerika. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia menegaskan bahwa bantuan yang datang setelah kemenangan diraih tidaklah memiliki nilai strategis bagi pemerintahannya.

"Kita tidak butuh orang yang bergabung dalam perang setelah kita sudah menang!" tambah Trump menutup pernyataannya. Langkah ini diperkirakan akan memicu perdebatan panas di Parlemen Inggris dan menekan hubungan diplomatik antara Gedung Putih dan Downing Street No. 10. (*)

Editor : Indra Zakaria