Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Aliansi Retak..!! Trump Ngaku Tak Perlu NATO untuk Perang di Selat Hormuz

Redaksi Prokal • 2026-03-18 11:24:42

Donald Trump
Donald Trump

WASHINGTON– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu gelombang kejutan diplomatik baru dengan menyatakan bahwa militer AS tidak lagi membutuhkan bantuan dari negara-negara sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah buntu dan panasnya hubungan Washington dengan mitra tradisionalnya terkait perang yang sedang berkecamuk dengan Iran.

Melalui unggahan di media sosial, Trump mengecam keras sikap negara-negara NATO, Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang dianggap "dingin" dalam merespons permintaan bantuan militer AS. "Karena kesuksesan militer kita yang luar biasa, kita tidak lagi 'membutuhkan' atau menginginkan bantuan negara-negara NATO—KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA!" tulis Trump pada Selasa (17/3).

Retaknya Aliansi dan Jalan Diplomasi Uni Eropa

Sikap keras Trump ini merupakan buntut dari penolakan sebagian besar anggota NATO untuk terlibat lebih jauh dalam konflik yang kian mematikan. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa saat ini tidak ada negara yang siap mempertaruhkan nyawa rakyatnya di Selat Hormuz.

"Kita harus menemukan jalur diplomatik untuk menjaga jalur ini tetap terbuka agar kita tidak menghadapi krisis pangan, krisis pupuk, sekaligus krisis energi," ujar Kallas dalam sebuah wawancara.

Di dalam negeri AS sendiri, kebijakan ini memicu gejolak. Joseph Kent, Kepala Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional AS, memutuskan mengundurkan diri pada Selasa. Dalam surat pengunduran dirinya, Kent secara tajam mengkritik keterlibatan AS dengan menyebut bahwa Iran "tidak memberikan ancaman langsung" bagi bangsa Amerika.

Dampak perang ini kini mulai mencekik ekonomi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit seperlima perdagangan minyak dunia, sebagian besar masih tertutup akibat ancaman Iran terhadap tanker yang terafiliasi dengan AS dan Israel.

Statistik krisis mulai menunjukkan angka yang mengerikan. Harga minyak melonjak sekitar 45% sejak perang pecah pada 28 Februari, memicu kekhawatiran akan ledakan inflasi global. Di sektor penerbangan, maskapai dunia membunyikan alarm bahaya karena lonjakan harga bahan bakar jet dan penutupan ruang udara Timur Tengah yang memaksa pembatalan rute massal.

Bisa jadi krisis pangan. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa puluhan juta orang akan menghadapi kelaparan akut jika perang terus berlanjut hingga Juni mendatang.

Gempuran di Garis Pantai Iran dan Balasan ke Teluk

Secara militer, AS mengonfirmasi telah menargetkan situs-situs di sepanjang garis pantai Iran dekat Selat Hormuz pada Selasa kemarin. Serangan ini bertujuan melumpuhkan rudal anti-kapal Iran yang dianggap membahayakan pelayaran internasional.

Sebagai balasan, Iran melancarkan lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone yang menyasar negara-negara tetangga di Teluk, terutama Uni Emirat Arab (UEA), yang menjadi inang pangkalan militer dan misi diplomatik AS.

Di tengah situasi yang kian tak terkendali, Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan konsultatif para menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam di Riyadh pada Rabu malam ini. Pertemuan tersebut diharapkan dapat merumuskan langkah darurat untuk menjaga stabilitas keamanan regional yang kian rapuh. (*)

Editor : Indra Zakaria