Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terdeteksi Melintasi Singapura, Kapal Induk Mini AS Angkut Ribuan Marinir 

Redaksi Prokal • 2026-03-18 18:25:34

Kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) memasuki Selat Singapura, sebagaimana terlihat dari Singapura, pada Selasa, 17 Maret. (Edgar Su/Reuters)
Kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) memasuki Selat Singapura, sebagaimana terlihat dari Singapura, pada Selasa, 17 Maret. (Edgar Su/Reuters)

SINGAPURA – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memicu pergerakan masif kekuatan militer Amerika Serikat di belahan dunia lain. Kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7), yang diyakini mengangkut ribuan personel Marinir tambahan, terdeteksi tengah mendekati Selat Malaka di lepas pantai Singapura pada Selasa (17/3).

Berdasarkan data pelacakan maritim AIS yang dipantau oleh CNN, kapal perang raksasa ini terlihat bergerak di pinggiran barat daya Laut China Selatan setelah bertolak dari Okinawa, Jepang, pada 11 Maret lalu.

Pengiriman Satuan Reaksi Cepat 31st MEU

Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa USS Tripoli bertugas mengangkut personel dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 (31st MEU) yang berbasis di Okinawa. Satuan ini merupakan kekuatan reaksi cepat yang terdiri dari sekitar 2.200 personel tangguh.

Pengerahan ini dilakukan atas perintah langsung dari Pentagon guna memperkuat posisi AS di Timur Tengah. Saat ini, Komando Sentral AS (CENTCOM) mencatat sudah ada sekitar 50.000 tentara Amerika yang disiagakan di kawasan tersebut sebagai bagian dari konfrontasi militer dengan Iran.

USS Tripoli bukanlah kapal perang biasa. Dengan panjang mencapai 259 meter dan bobot 45.000 ton, kapal ini secara fungsional berperan sebagai kapal induk kecil yang sangat fleksibel. Fasilitas di atas deknya mampu menampung:

Jet Tempur Siluman F-35: Memberikan keunggulan supremasi udara. Pesawat Angkut MV-22 Osprey memungkinkan mobilisasi pasukan secara cepat dari kapal ke darat. Kapal Pendarat: Dirancang untuk operasi amfibi, penggerebekan, hingga misi evakuasi skala besar.

USS Tripoli biasanya memimpin Grup Kesiapan Amfibi (Amphibious Ready Group), yang sering kali didampingi oleh kapal pendukung lainnya seperti USS New Orleans dan USS San Diego, meskipun keberadaan kapal-kapal pendamping tersebut belum terkonfirmasi dalam pantauan radar terbaru.

Meskipun pergerakannya terpantau mendekati Singapura dengan kecepatan sekitar 35 km/jam, pejabat militer AS masih merahasiakan lokasi spesifik di mana unit Marinir ini akan ditempatkan atau tugas khusus apa yang akan mereka jalankan setibanya di Timur Tengah.

Pengaktifan transponder AIS oleh USS Tripoli di wilayah padat lalu lintas laut seperti Singapura dianggap sebagai prosedur keamanan navigasi, mengingat kapal perang AS biasanya bergerak dalam mode senyap dengan mematikan alat pelacak untuk menjaga kerahasiaan posisi.(*)

Editor : Indra Zakaria