Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ambisi Trump Kuasai Selat Hormuz: Operasi Militer AS Diprediksi Perpanjang Perang Hingga Berbulan-bulan

Redaksi Prokal • 2026-03-18 19:45:00

Kapal-kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz. (reuters)
Kapal-kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz. (reuters)

WASHINGTON – Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meluncurkan operasi militer besar guna mengamankan Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru. Sejumlah sumber diplomatik menyebut bahwa langkah agresif ini justru berisiko memperpanjang durasi perang melawan Iran secara signifikan.

Laporan dari The Jerusalem Post pada Rabu (18/3) mengungkapkan bahwa intervensi langsung di jalur pelayaran paling kritis di dunia tersebut dapat menambah waktu konflik selama berminggu-minggu, bahkan hingga dua bulan ke depan.

Strategi Penguasaan Titik Vital: Target Pulau Kharg

Gedung Putih kini mulai memasukkan agenda "kebebasan navigasi" sebagai salah satu tujuan utama perang. Fokus utama saat ini tertuju pada Pulau Kharg, terminal minyak vital milik Iran yang terletak di tengah Teluk Persia. Setelah serangan udara besar-besaran akhir pekan lalu, militer AS kini tengah mempertimbangkan opsi operasi darat untuk mengambil alih pulau tersebut.

Kapal tanker Luojiashan sedang membuang sauh di Muscat, saat Iran bersumpah untuk menutup Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Muscat, Oman, 7 Maret 2026. (REUTERS/Be)
Kapal tanker Luojiashan sedang membuang sauh di Muscat, saat Iran bersumpah untuk menutup Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Muscat, Oman, 7 Maret 2026. (REUTERS/Be)

Keseriusan ini ditandai dengan pengumuman pengerahan 5.000 personel Marinir AS ke kawasan tersebut. Pentagon menegaskan bahwa pemindahan pasukan ini adalah bagian dari strategi untuk tetap menjaga "semua opsi di atas meja" guna memastikan 20% pasokan minyak dunia tetap mengalir.

Trump Sindir Sekutu: "NATO Itu Jalan Satu Arah"

Di tengah persiapan perang yang kian masif, Trump justru menghadapi penolakan dari negara-negara sekutu tradisionalnya. Banyak anggota NATO, termasuk Jepang, Australia, dan Korea Selatan, menyatakan enggan bergabung dalam koalisi regional yang diusulkan Washington untuk mengamankan Selat Hormuz.

Menanggapi penolakan tersebut, Trump melontarkan kritik pedas yang menjadi ciri khasnya. Ia menyebut aliansi pertahanan selama ini hanya menguntungkan satu pihak.

"Kita menghabiskan ratusan miliar dolar setahun untuk membela negara-negara itu, tapi mereka tidak melakukan apa pun untuk kita, terutama di masa sulit," ujar Trump. Ia menegaskan bahwa AS adalah negara terkuat di dunia dan tidak membutuhkan bantuan siapa pun, termasuk NATO, untuk menyelesaikan urusan dengan Iran.

Berbeda dengan keretakan hubungan AS-NATO, koordinasi antara Washington dan Yerusalem justru semakin solid. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan telah menjalin komunikasi intensif dengan Trump untuk menyinkronkan operasi angkatan laut dan udara di Selat Hormuz.

Netanyahu menjanjikan akan ada lebih banyak "kejutan" dalam waktu dekat melalui aksi langsung maupun tekanan hebat terhadap rezim Iran. Meskipun saat ini bantuan Israel masih terbatas pada dukungan intelijen, pejabat di Yerusalem mengisyaratkan bahwa peran mereka bisa berubah menjadi aksi militer kinetik sewaktu-waktu. (*)

Editor : Indra Zakaria