Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Survei: Popularitas Kebijakan Ekonomi Trump Anjlok ke Titik Terendah Akibat Perang Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-19 10:15:00

Donald Trump
Donald Trump

WASHINGTON – Kebijakan ekonomi Presiden Trump menghadapi tantangan berat seiring melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah. Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari Yahoo/YouGov, tingkat persetujuan publik terhadap kinerja ekonomi Trump kini menyentuh level terendah sepanjang masa jabatannya.

Survei yang melibatkan 1.699 orang dewasa AS ini mengungkapkan bahwa 66% warga Amerika tidak setuju dengan cara presiden menangani harga gas, sementara hanya 27% yang memberikan dukungan. Angka yang hampir serupa muncul terkait penanganan biaya hidup, di mana ketidaksetujuan mencapai 67%.

Dampak Perang Iran dan Krisis Selat Hormuz

Kenaikan harga ini dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia. Ancaman blokade dan penggunaan ranjau laut oleh Iran telah mendorong harga minyak mentah global melampaui $100 per barel. Di tingkat domestik, rata-rata harga bensin di AS kini mendekati $4 per galon, naik 80 sen hanya dalam satu bulan.

Meskipun administrasi Trump telah mencoba berbagai langkah—termasuk melonggarkan sanksi minyak Rusia dan menyerang kapal ranjau Iran—publik tampaknya tetap menyalahkan Gedung Putih. Sebanyak 60% responden yang memprediksi kenaikan harga gas lebih lanjut menunjuk Trump sebagai pihak yang paling layak disalahkan, jauh melampaui Iran (13%) atau perusahaan minyak (12%).

Retaknya Dukungan di Internal Republik

Data survei menunjukkan pergeseran menarik di basis pendukung Trump. Misalnya soal harga gas, dimana 71% pemilih Republik menganggap harga bensin saat ini "terlalu tinggi". Meski secara umum hanya 17% pendukung Republik yang tidak puas dengan kinerja Trump, angka ketidaksetujuan melonjak menjadi 33% saat ditanya spesifik mengenai penanganan harga gas dan biaya hidup.

Fokus Domestik vs Luar Negeri:

Sepertiga pemilih Republik (33%) menilai Trump lebih fokus pada masalah luar negeri daripada urusan dalam negeri.  Secara keseluruhan, kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi AS berada di zona merah. Dimana 71% menilai kondisi ekonomi "buruk" atau "biasa saja". Kemudian 58% percaya kondisi ekonomi terus memburuk. Lalu 54% yakin Amerika Serikat sedang menuju atau sudah berada dalam jurang resesi.

Di tengah penolakan sekutu NATO untuk terlibat lebih jauh dalam konflik ini, Trump menegaskan melalui media sosial bahwa AS tidak membutuhkan bantuan pihak manapun. Namun, dengan angka persetujuan penanganan Iran yang hanya berada di level 36%, tekanan domestik terhadap kebijakan luar negeri dan dampaknya ke dompet warga Amerika kian membesar.(*)

Editor : Indra Zakaria