Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Trump Tertekan: Direktur Antiteror AS Mundur, Sebut Perang Iran Tanpa Ancaman Nyata

Indra Zakaria • 2026-03-19 08:35:00

Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional Joe Kent mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas perang Iran dalam sebuah surat yang berisi kecaman tajam. (Elizabeth Franz/Reuters)
Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional Joe Kent mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas perang Iran dalam sebuah surat yang berisi kecaman tajam. (Elizabeth Franz/Reuters)

WASHINGTON – Integritas di balik keputusan Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran kini dipertanyakan secara serius. Joe Kent, Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional (NCTC), secara mengejutkan mengundurkan diri pada hari Selasa sebagai bentuk protes keras terhadap perang yang kini meluas di Timur Tengah.

Dalam surat pengunduran dirinya yang tajam, Kent—seorang Republikan dan veteran tempur Angkatan Darat—menuduh pemerintahan Trump telah memanipulasi narasi untuk membenarkan tindakan militer.

Pengunduran diri Kent menjadi pukulan telak karena ia adalah pejabat tinggi pertama yang berani memutus hubungan dengan administrasi Trump terkait konflik ini. "Iran tidak memberikan ancaman mendesak bagi bangsa kita," tulis Kent dalam suratnya. "Sangat jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat."

Pernyataan ini berbanding terbalik dengan klaim awal Gedung Putih yang menyatakan bahwa serangan ke Teheran pada 28 Februari dilakukan karena adanya rencana serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS.

Seiring berkembangnya konflik, penjelasan Presiden Trump mulai berubah-ubah. Meskipun di depan publik ia bersikeras adanya ancaman "segera" (imminent threat), para pejabat administrasi Trump justru memberikan keterangan berbeda kepada staf kongres dalam pengarahan tertutup.

Berdasarkan laporan yang beredar, para pejabat tersebut mengakui bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan adanya rencana serangan Iran dalam waktu dekat. Perbedaan mencolok antara retorika publik dan fakta intelijen ini memicu keraguan besar di Capitol Hill mengenai tujuan asli operasi militer tersebut.

Keluarnya Joe Kent menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Trump, setelah sebelumnya ia dihantam oleh anjloknya dukungan domestik (66% warga tidak puas dengan harga gas). Kemudian isolasi internasional (kecaman dari sekutu NATO, Inggris, hingga Jepang). Dan harga minyak dunia yang melambung di atas $100 per barel.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan serius yang dilayangkan oleh Kent. Para pengamat politik menilai pengunduran diri ini bisa menjadi pemicu bagi pejabat lain untuk menyuarakan keberatan mereka secara terbuka. (*)

Editor : Indra Zakaria