Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Eskalasi Memanas: Iran Meluncurkan Gelombang Serangan Rudal ke Israel sebagai Aksi Balas Dendam

Redaksi Prokal • 2026-03-21 08:15:00

 Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel.
Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel.

PROKAL.CO- Konflik di Timur Tengah memasuki fase intensitas tinggi setelah Iran kembali meluncurkan gelombang terbaru serangan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Serangan ini disebut sebagai bagian dari rangkaian operasi militer bertahap yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, dengan target spesifik mencakup instalasi militer strategis.

Melalui media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), pihak Teheran mengonfirmasi bahwa peluncuran puluhan gelombang serangan ini merupakan respons langsung atas tewasnya juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini. Naini dilaporkan gugur dalam serangan sebelumnya yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel. Sebagai bentuk dedikasi, operasi kali ini menggunakan kombinasi rudal canggih dan drone dalam jumlah besar untuk menekan target di kawasan.

Dokumentasi operasional yang dirilis memperlihatkan kesiapan kru IRGC dalam mengarahkan peluncuran rudal-rudal balistik tersebut. Penggunaan teknologi tempur modern ini menunjukkan strategi Iran untuk melakukan tekanan maksimal terhadap lawan melalui serangan udara yang terkoordinasi. Serangan ke-68 ini sekaligus menjadi sinyal bahwa eskalasi di wilayah tersebut masih jauh dari kata reda.

Perkembangan situasi ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya titik konflik yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah. Hingga saat ini, dampak kerusakan dan respon balasan dari pihak Israel maupun Amerika Serikat terus dipantau secara ketat. Penggunaan strategi perang modern yang mengombinasikan drone dan rudal balistik menjadi catatan penting dalam dinamika keamanan internasional yang kian tidak menentu. (*)

Editor : Indra Zakaria