WASHINGTON – Strategi Amerika Serikat dalam perang melawan Iran kini berada dalam pusaran ketidakpastian. Presiden Donald Trump memicu tanda tanya besar setelah mengeluarkan serangkaian pernyataan dan kebijakan yang saling bertolak belakang hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Di satu sisi, Trump memberikan harapan akan berakhirnya konflik, namun di sisi lain, militer AS justru mempertebal kekuatannya di garda terdepan. Melalui unggahan di media sosialnya pada Jumat sore, Trump mengeklaim bahwa tujuan militer AS hampir tercapai. Ia mengisyaratkan keinginan untuk segera menarik diri dari keterlibatan aktif dalam konflik tersebut.
“Kita sudah sangat dekat untuk memenuhi tujuan kita seiring pertimbangan untuk mengakhiri (winding down) upaya militer besar kita di Timur Tengah,” tulis Trump. Ia berpendapat bahwa kapasitas angkatan laut dan rudal Iran telah cukup dilumpuhkan.
Namun, pernyataan "damai" ini langsung kontras dengan pengumuman pemerintahannya yang mengirimkan tiga kapal perang tambahan serta sekitar 2.500 personel Marinir ke wilayah konflik. Penambahan ini menjadikan total sekitar 50.000 personel AS yang kini mendukung upaya perang—sebuah angka yang tidak menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.
Nasib Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia, juga menjadi titik kerancuan. Trump menyarankan agar negara-negara lain yang menggunakan jalur tersebut yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanannya.
“Selat Hormuz harus dijaga dan dipatroli oleh bangsa-bangsa lain yang menggunakannya—bukan Amerika Serikat!” tegas Trump. Meski begitu, ia tetap membuka celah bahwa AS akan membantu jika diminta, sebuah pernyataan yang dinilai kritikus sebagai sinyal strategi jangka panjang yang tidak jelas. (*)
Editor : Indra Zakaria