TEHERAN – Di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penundaan serangan militer, Teheran justru menunjukkan taji dengan meluncurkan rudal balistik jarak sangat jauh yang memicu kekhawatiran global. Iran dilaporkan membidik pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, sebuah pulau terpencil di Samudra Hindia yang berjarak hampir 4.000 kilometer dari wilayah Iran.
Aksi ini menandai perubahan signifikan dalam peta kekuatan militer Timur Tengah. Analis dari Institute for the Study of War (ISW) menyebutkan bahwa peluncuran ini merupakan percobaan serangan dengan jangkauan terjauh yang pernah dilakukan oleh Iran. Meski satu rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan AS dan satu lainnya gagal saat terbang, pencapaian jarak tempuh tersebut mengguncang asumsi intelijen selama ini.
Selama bertahun-tahun, Iran diyakini membatasi jangkauan rudal balistiknya di angka 2.000 kilometer. Namun, serangan ke Diego Garcia berpotensi mengubah perspektif tersebut. Peneliti dari French Foundation for Strategic Research, Etienne Marcuz, menilai bahwa rudal jenis Khorramshahr-4 dapat menjangkau jarak yang jauh lebih luas jika membawa hulu ledak atau payload yang lebih ringan.
“Semakin ringan payload, semakin jauh jarak tempuh rudal tersebut,” ungkap Marcuz merujuk pada analisis teknis kemampuan persenjataan Iran.
Selain modifikasi muatan, para pakar mempertimbangkan kemungkinan penggunaan teknologi roket antariksa Simorgh sebagai basis rudal jarak jauh. Profesor Stephan Fruehling dari Australian National University menjelaskan bahwa secara fisika, pemanfaatan teknologi peluncur satelit untuk kebutuhan militer bukanlah hal yang mengejutkan, meski efektivitasnya sebagai senjata tempur yang mampu menembus atmosfer masih menjadi tanda tanya.
Di sisi lain, tensi diplomatik turut memanas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah klaim bahwa negaranya sengaja menargetkan Diego Garcia. Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa aliansi belum dapat mengonfirmasi peluncuran tersebut secara mandiri.
Namun, peringatan keras datang dari pihak Israel. Kepala militer Israel, Eyal Zamir, memperingatkan bahwa ancaman Iran kini telah meluas melampaui kawasan Timur Tengah. Menurutnya, dengan teknologi terbaru ini, rudal Iran berpotensi menjangkau kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, hingga Roma.
Perkembangan ini terjadi di saat Washington mengklaim adanya "pembicaraan produktif" dan memutuskan menunda serangan terhadap fasilitas energi Teheran selama lima hari. Langkah Iran ini seolah menegaskan bahwa jeda tersebut bukanlah sinyal deeskalasi, melainkan fase krusial sebelum konflik yang telah berlangsung sejak Februari ini memasuki babak yang lebih berbahaya di jalur strategis Samudra Hindia hingga Eropa. (*)
Editor : Indra Zakaria