ISLAMABAD – Ketegangan di Timur Tengah kini memicu gelombang dukungan dari wilayah suku-suku pegunungan yang melegenda di Pakistan. Dalam sebuah pertemuan resmi dengan perwakilan Teheran pada Senin (30/3), para pemimpin suku Pashtun Pakistan secara terbuka menyatakan kesiapan mereka untuk terjun ke medan tempur guna menyokong Iran dalam menghadapi agresi militer Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini menandai pergeseran krusial, di mana konflik yang awalnya melibatkan kekuatan militer negara kini mulai menarik simpati kelompok-kelompok bersenjata suku yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam pertempuran gerilya. Perwakilan suku Pashtun menegaskan bahwa dukungan mereka tidak akan membebani logistik Iran, karena mereka bersedia memobilisasi kekuatan secara mandiri.
"Insya Allah, kami adalah resimen dari berbagai suku, dan kami bersama kalian. Amunisi, senapan, senjata, dan perbekalan kami—semuanya akan kami siapkan dan sediakan sendiri. Di jalan Allah dan di jalan jihad, insya Allah, kami akan berdiri bahu-membahu dengan Iran," tegas salah satu tetua suku dalam pidatonya yang emosional.
Komitmen ini tidak hanya bersifat retoris. Para pemimpin suku tersebut menekankan bahwa mereka memiliki cadangan personel yang masif dan terlatih secara tradisional di wilayah perbatasan. Mereka mendesak agar komando militer Iran segera memberikan instruksi operasional untuk memulai pengerahan pasukan ke zona konflik.
"Berikan saja perintahnya sekarang juga, dan kami siap menyediakan pasukan sebanyak yang dibutuhkan dari suku-suku tersebut," tambah perwakilan suku tersebut dengan nada penuh keyakinan.
Keterlibatan potensial dari pejuang suku Pashtun ini menambah lapisan kerumitan bagi strategi militer AS dan sekutunya. Dikenal karena ketangguhannya di medan sulit dan keahlian menggunakan senjata, masuknya ribuan pejuang sukarela dari Pakistan dapat menciptakan "front rakyat" yang sulit diprediksi oleh intelijen Barat.
Di sisi lain, sikap ini juga menempatkan pemerintah Islamabad dalam posisi dilematis. Meskipun Pakistan tengah berusaha menjadi mediator damai antara Washington dan Teheran, sentimen kuat di wilayah kesukuannya justru menunjukkan arah yang berlawanan. Fenomena ini membuktikan bahwa konflik di Iran kini telah meluas menjadi isu identitas dan solidaritas yang mampu menembus batas-batas negara di Asia Selatan. (*)
Editor : Indra Zakaria