Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

GAWAT..!! Empat Puluh Guru Positif Covid-19, Sekolah Tatap Muka di Kalbar Dihentikan

izak-Indra Zakaria • 2021-03-08 14:15:22
TAHAN DULU, BU: Seorang guru mengikuti tes swab beberapa waktu lalu. ROBERTUS RISKY/JAWA POS
TAHAN DULU, BU: Seorang guru mengikuti tes swab beberapa waktu lalu. ROBERTUS RISKY/JAWA POS

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) menghentikan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) untuk jenjang SMA/SMK/SLB yang menjadi kewenangannya. Kebijakan ini diambil menyusul sudah ditemukannya 40 guru kasus positif Covid-19 dari pemeriksaan tes usap (swab) PCR.

“Saya tidak mau ambil risiko, beberapa sekolah yang kami jadikan sampel, gurunya (dites) PCR, hampir semua sekolah ada yang positif,” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidji diberitakan pontianakpost.co.id.

Jumlah guru yang positif Covid-19 itu dinilai cukup banyak. Bahkan menurut dia ada sekolah yang gurunya positif, sementara para pelajarnya yang dites menggunakan rapid antigen tidak ada satu pun yang reaktif atau positif. Keberadaan guru yang positif tersebut dikatakan didapat membahayakan pelajar, sehingga kebijakan penghentian PTM harus diambil. 

“Jumlahnya (guru positif) cukup banyak, kalau guru tidak bisa disiplin. Saya tidak mau ambil risiko,” pungkasnya.

Terpisah Kepla Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menambahkan, pihaknya sudah melaksanakan tes usap PCR terhadap 728 guru dari beberapa sekolah di Kota Pontianak. Dimana dari 540 sampel yang hasilnya sudah keluar ditemukan 40 orang kasus positif Covid-19 atau sebesar 7,41 persen. Sementara yang negatif ada 500 orang atau 92,59 persen.

Adapun sekolah-sekolah yang gurunya sudah dilakukan pemeriksaan tersebut antara lain, SMAN 3 Pontianak, SMA Mujahidin Pontianak, SMAN 4 Pontianak dan SMA Muhammadiyah 1 Pontianak. Lalu SMAN 5 Pontianak, SMAN 1 Pontianak, SMAN 7 Pontianak, SMAN 11 Pontianak, SMAN 8 Pontianak.

Kemudian SMAN 6 Pontianak, SMAN 9 Pontianak, SMAN 10 Pontianak dan SMAN 2 Pontianak. Hasil pemeriksaan tersebut diketahui total dari tanggal 24 Februari 2021 sampai 4 Maret 2021 lalu. Jumlah tersebut bisa saja bertambah, mengingat masih ada sampel tes usap para guru yang hasilnya belum keluar.

“Dari sini kami tahu bahwa PTM akan membawa risiko terjadinya klaster baru dalam penyebaran virus Covid-19. Jadi untuk meniadakan risiko tersebut maka PTM di sekolah ditiadakan, siswa (pelajar) kembali sekolah secara daring atau online,” tutupnya.

Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kalimantan Barat (Kalbar) melakukan langkah-langkah antisipasi agar varian baru virus corona B117 tidak masuk ke daerah ini. Caranya dengan memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk orang dari luar daerah ke Kalbar.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, langkah-langkah tersebut antara lain, pertama memeriksa secara intensif Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Kalbar dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Seperti diketahui aktivitas pemulangan PMI non prosedural dari Malaysia terus dilakukan pihak terkait.

“Itu biasanya diangkut oleh Dinas Sosial ke shelter, di sana Dinas Kesehatan melakukan swab (tes usap) terhadap semua yang di shelter yang dari Malaysia itu,” ungkap Harisson, Minggu (7/3).

Untuk memastikan para PMI ini tidak terpapar virus atau terjangkit penyakit, maka mereka belum diperbolehkan pulang ke kampung halaman hingga hasil tes usapnya keluar. Langkah yang lain dilakukan di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Dimana sampai saat ini masih diberlakukan bagi penumpang yang datang ke Kalbar wajib negatif tes usap PCR.

“Kemudian kalau yang (penumpang) kapal laut kan pakai swab antigen, kemudian begitu dia sampai ke Pontianak (penumpang kapal) kita lakukan tes PCR secara acak ya,” paparnya.

Di samping upaya-upaya pencegahan tersebut, Dinas Kesehatan Kalbar juga bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura (Untan) dalam mendeteksi varian baru virus corona. Pihak lab PCR Untan rutin mengirimkan sampel ke Jakarta, untuk dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS). Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan virus yang ada di Kalbar, apakah masih sama dengan sebelumnya atau terjadi mutasi.

Terpisah Ahli Biologi Molukuler Kalbar dr. Andriani mengatakan, hasil pengiriman sampel yang terakhir untuk WGS belum ditemukan varian baru virus corona B117. “Alhamdulillah belum terdeteksi varian B117, dari terakhir yang kami kirimkan untuk WGS. Belum terdeteksi di Kalbar,” tegasnya.

Meski demikian piha lab Untan menurutnya masih secara rutin mengirimkan sampel ke lab di Jakarta untuk dilakukan WGS. Andriani menjelaskan B117 merupakan salah satu varian dari SARS-CoV-2. Setelah sebelumnya juga sempat ditemukan yang cukup signifikan berpengaruh terhadap penularan adalah varian virus D614G. “Kalau B117 ini pertama terdeteksi di Inggris, makanya sering disebut sebagai varian Inggris,” katanya.

Dari kasus yang ditemukan terkait penyebaran B117 ini menurut Andriani belum ada bukti yang menyatakan virus ini lebih parah. Hanya saja di Inggris tempat virus tersebut ditemukan dan di beberapa negara eropa, sudah terbukti bahwa keberadaan B117 meningkatkan jumlah kasus yang signifikan. Termasuk membuat pasien yang harus dirawat di Rumah Sakit meningkat.

“B117 ini lah yang bertanggung jawab terhadap gelombang kedua yang ada di Inggris pada bulan September (2020). Analisisnya adalah untuk keparahan belum terbukti, tapi dari segi transmisi ditengarai 30 persen lebih menular,” jelasnya.

Sementara untuk pengaruh terhadpa vaksin, virus B117 masih sensitif dengan vaksin yang sudah diedarkan. Namun demikian penting juga untuk diantisipasi adalah varian mutasi virus yang tidak sensitif terhadap vaksin yang sudah ada. Yakni varian baru di Afrika Selatan dan Brazil. “Dua itu, tapi kalau B117 sampai saat ini masih terbukti efektif terhadap vaksin,” pungkasnya.(bar)

Editor : izak-Indra Zakaria