Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Cerita Pemanfaatan Kelulut Sebagai Potensi Ekonomi di Dusun Sebaju

izak-Indra Zakaria • 2021-06-15 11:41:03
BETERNAK KELULUT: Kades Kebebu Ari Susanto saat menunjukkan sarang kelulut yang diternakkannya di sekitar rumahnya yang terletak di Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. (ISTIMEWA/PONTIANAK POST)
BETERNAK KELULUT: Kades Kebebu Ari Susanto saat menunjukkan sarang kelulut yang diternakkannya di sekitar rumahnya yang terletak di Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. (ISTIMEWA/PONTIANAK POST)

Asam, pahit, dan manis adalah perpaduan khas rasa madu kelulut Sebaju. Kini produk dari Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh itu kian dikenal. Seiring banyaknya permintaan, minat beternak lebah tanpa sengat ini pun terus tumbuh.

Aris Munandar, Melawi

Usai mendapat pelatihan beternak kelulut dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Melawi dua tahun lalu, muncul keinginan dari Sahbudin untuk mengaplikasikan ilmunya. Akhirnya terealisasi beberapa bulan kemudian, tepatnya Januari 2020. Sahbudin ingat betul bahwa rasa ketidakyakinan adalah yang paling dirasakannya saat itu. Pun dengan tiga temannya yang lain. Untung saja perasaan itu tak sempat membuat mereka urung niat.

Dua hari adalah waktu khusus yang mereka luangkan untuk mencari pohon-pohon yang di dalamnya disarangi oleh kelulut, lebah tanpa sengat yang bernama latin Trigona spp itu. Rasau Sebaju, hutan rawa gambut yang dimiliki oleh Masyarakat Hukum Adat (MHA) Khatab Kebahan dijadikan lokasi pencarian. Karena di batang-batang pohon di Rasau Sebaju masih sering dijumpai sarang kelulut.

Dibuatlah sarang dari papan kayu seukuran 15x20x20 cm. Sarang madu atau yang di sana disebut toping juga dibuat seukuran 30x15x40 cm. Serta panjang tiang dari permukaan tanah kurang lebih 1 meter.

Dua minggu usai kelulut dari hutan dipindahkan, dua sarang milik Sahbudin mengeluarkan madu. Sementara dua sarang lain yang dimiliki dua temannya memiliki perkembangan yang lambat. Namun dari sanalah, ternyata pertanyaan tentang apakah usai dipindahkan sarang kelulut tetap dapat dipindahkan dan menghasilkan madu terjawab.

Pun tak perlu menebang pohon yang disarangi kelulut lagi. Karena mereka sudah mengetahui cara mengkloning atau memisahkan sarang dari sarang kelulut sebelumnya untuk membuat sarang baru. Usai itu, sarang kelulut di sekitar rumah warga bak cendawan di musim hujan. Pun memang bentuk sarang kelulut itu seperti payung.

Panen madu kelulut dilakukan setiap dua minggu. Satu sarang dapat menghasilkan 500 mililiter setiap panen. Bahkan bisa sampai 1000 mililiter. Madu kelulut Sebaju dikemas dalam botol berukuran 250 mililiter dan dihargai 100 ribu rupiah. Potensi ekonomi itulah yang membuat warga Desa Nanga Kebebu, terutama di Dusun Sebaju dan Dusun Kebebu makin giat menambah jumlah sarang kelulutnya. Terlebih lagi beternak kelulut tak menghabiskan waktu banyak dan perawatannya juga sangat minimal. “Kelulut kini mengangkat perekonomian di Nanga Kebebu. Terutama di Dusun Sebaju dan Dusun Kebebu,” ucap Yusli.

Madu kelulut itu kini dikenal dengan madu kelulut Sebaju. Rasa yang khas pada madu kelulut dapat berubah menyesuaikan dengan musim. Khasiatnya untuk kesehatan juga membuatnya banyak diminati. Namun madu kelulut Sebaju kini hanya mampu memenuhi pasar Kabupaten Melawi dan sekitarnya.

Barang tentu jika produksi ditingkatkan dan warga menambah lagi sarang kelulutnya, pasar bisa diluaskan. Mengingat permintaan masih ada dari luar daerah yang belum dapat dipenuhi.

Kepala Desa Nanga Kebebu kini, Ari Susanto mengatakan bahwa hampir di semua rumah, terutama Dusun Sebaju dan Dusun Kebebu punya sarang kelulut. “Totalnya sekarang hampir 400 sarang,” ucap Kades Kebebu, Ari Susanto.

Ia pun sangat berkeinginan agar kelulut bisa jadi ciri khas di Dusun Sebaju. Dusun lain pun akan menyusul dengan produk hasil hutan bukan kayu lainnya. Agar nantinya Nanga Kebebu punya produk yang dapat dibanggakan dari setiap dusun.

Untuk lebih mengoptimalkan, mulai dari pembinaan hingga pemasaran produk dari Nanga Kebebu, akan dibentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Harapannya, potensi ekonomi dari Nanga Kebebu, terutama yang berasal dari Rasau Sebaju dapat dikelola dengan baik. 

Pemanfaatan Sekaligus Pelestarian

Direktur Suar Institute Sukartaji mengatakan bahwa peternakan kelulut di Desa Kebebu adalah bentuk dari pemanfaatan sekaligus pelestarian hutan adat masyarakat disana yang disebut sebagai Rasau Sebaju. Karena madu yang dihasilkan oleh kelulut juga tergantung nektar atau sari bebungaan yang ada di hutan. “Kalau hutan dengan pohon yang menghasilkan bunga kita tebang, pakan untuk kelulut akan hilang,” ucapnya.

Seiring waktu masyarakat pun semakin menyadari bahwa keberlanjutan perekonomian mereka tergangung pada upaya mereka memelihara hutan adat seluas 200 hektare yang kini dikelola oleh Pasak Sebaju itu.

Kepala KPH Melawi Antoni Manik mengatakan bahwa alasan mengadakan pelatihan yang menjadi cikal bakal ketertarikan warga Desa Kebebu, terutama Dusun Sebaju saat itu adalah karena kelulut memang sudah ada di sana. Jika itu dimaksimalkan, akan mendatangkan tambahan pendapatan. Budidaya kelulut juga dinilai mudah dan tidak terlalu repot perawatannya. Sehingga menjadikan aktivitas beternak kelulut tidak menghambat mata pencaharian utama masyarakat Kebebu, yaitu bertani.

Selain madu, kelulut juga menghasilkan propolis. Sejenis zat lilin yang menjadi perekat sarang kelulut. Juga ada potensi ekonomi yang tinggi dari ppopolis kelulut itu. Namun di Sebaju, propolis digarap lantaran belum menemukan pasar. Bersama beberapa lembaga non-profit yang selama ini menjadi pendamping, peternak kelulut di Sebaju terus mencari pasar untuk propolis agar dapat semakin meningkatkan nilai ekonomi dari kelulut. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria