Berada tepat berbatasan dengan Kota Pontianak, Desa Sungai Raya Dalam tak terlepas dari sekelumit masalah gizi. Memiliki lima dusun, puskesmas dan 15 posyandu, desa yang ada di Kabupaten Kubu Raya ini terus berjuang menekan angka stunting dengan berbagai upaya.
Syahriani Siregar, Kubu Raya
Sri (23), seorang ibu warga Dusun Bunga Raya Desa Sungai Raya Dalam (Serdam) mengaku sangat bingung ketika anak pertamanya dinyatakan stunting dua tahun lalu. Saat itu putranya yang bernama Fachrul masih berumur empat bulan. Sampai saat ini Fachrul masih berjuang untuk bebas dari masalah gizi kronis tersebut.
Fachrul, bocah dua tahun itu tampak bermain dengan ceria saat ditemui di rumahnya, dengan tubuh kecilnya sesekali ia berjalan mondar-mandir ke area dapur yang menyatu dengan ruang tamu.
Di rumah kontrakan itu Mulyadi (33) beserta istri dan anaknya tinggal. Sebagai tulang punggung keluarga, Mulyadi yang lulusan SMK bekerja sebagai penjual jajanan keliling, ia menjual bakso dan sosis goreng ke sekolah-sekolah.
Meski terlihat aktif namun tak seperti balita lain seumurannya, tinggi dan berat badan Fachrul di bawah normal, ia juga belum bisa mengucap sepatah dua patah kata. Ia baru mampu mengoceh pada lawan bicaranya.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang dialami balita karena masalah kurang gizi kronis. Tidak hanya gangguan fisik, balita stunting juga dikhawatirkan bakal terganggu tingkat kecerdasannya.
Diakui Sri, di empat bulan masa awal kehamilan ia tidak cukup mengonsumsi nutrisi yang baik untuk ibu hamil. Ia tidak berselera makan karena mual dan muntah yang dialaminya.
“Waktu hamil saya kurang makan dan lemah, bahkan saya tidak bisa makan nasi. Setelah empat bulan ke atas saya baru selera makan apa saja. Puskesmas juga memberi vitamin,” ujar Sri.
Setelah melahirkan, Sri rutin membawa Fachrul ke posyandu. Setelah melalui beberapa kunjungan, ternyata peningkatan tinggi dan berat badan Fachrul terhambat, jauh di bawah balita seumurannya. Di usianya yang 2 tahun Fachrul memiliki tinggi 76 cm dan berat 7,7 kg.
Sebagai orang tua, ketika tahu anaknya mengalami masalah gizi, Sri bingung harus memberi makanan apa agar tinggi dan berat badan anaknya bertambah.
“Anak saya tuh kuat makan, biasa 4-5 kali makan dalam sehari. Tapi dia tidak suka makan ikan dan sayur, buah juga pilih-pilih,” ungkap Sri.
Hal ini coba dijelaskan oleh Neliyana, Pengelola Posyandu sekaligus Ketua Pokja 4 TP. PKK Desa Serdam, ia mengatakan bahwa makan banyak saja tidak cukup.
“Kalau ibu-ibu mungkin yang penting anaknya mau makan tapi mesti dilihat dulu nilai gizinya. Di situlah peran kader untuk mendampingi dan mengarahkannya,” ujar perempuan yang menjadi penggerak para kader posyandu di Desa Serdam.
Saat mendampingi Pontianak Post ke kediaman Fachrul, perempuan yang akrab disapa Bu Neng ini menganjurkan Sri untuk bisa menerapkan resep makanan dan camilan anak yang didapat di posyandu agar diterapkan di rumah.
Tak ingin Sri berputus asa, diutarakannya, ibu-ibu harus rajin dan kreatif dalam pemberian makanan untuk anak. Bisa diganti-ganti, tidak harus nasi tapi kentang, jagung dan singkong juga bisa jadi alternatif untuk sumber karbohidratnya. Sementara protein bisa didapat dari telur, susu dan kacang hijau.
Dengan semangat dalam pemenuhan gizi, dijelaskan Neng sudah ada beberapa balita di Serdam yang tahun ini lepas dari belenggu stunting setelah tahun-tahun sebelumnya dinyatakan stunting.
Salah satunya Raihan, bocah empat tahun yang berhasil lepas setelah tahun lalu divonis stunting.
Ditemui di rumahnya, Rudi-ayah Raihan-bercerita tentang anak ketiganya yang dinyatakan stunting tahun lalu. Warga Dusun Mekar Raya ini awalnya tak terima ketika putranya dinyatakan stunting.
Rudi (40), harus menelan pil pahit ketika dua tahun lalu ia di-PHK dari perusahaannya, salah satu bank swasta di Pontianak. Pandemi merubah drastis hidup Rudi, kini ia harus bertahan menjadi juru parkir untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Raihan dideteksi stunting pada 2021 saat umurnya tiga tahun. Saat itulah baru pertama kali Rudi dan istrinya membawa anak mereka ke posyandu. Itu pun tanpa sengaja. Saat itu Rudi sedang bersilaturahmi ke rumah kerabatnya dan ternyata rumah tersebut dijadikan tempat posyandu. Di situlah ia bertemu dengan ibu-ibu posyandu dan menceritakan masalah anaknya.
Sejak usianya 1,5 tahun Raihan sering mengalami step, dalam sehari bisa sampai tujuh kali kejang. Badannya juga kecil dan lemah. Bahkan kakinya tak cukup kuat untuk berdiri. Keluarga besarnya menyebutnya dengan istilah kampung yaitu lengkaok.
Usaha medis pun sempat dilakukan, namun sayang harus terhenti karena ekonominya yang makin seret saat pandemi. Disarankan terapi oleh dokter, Rudi tak menyanggupi. Akhirnya Raihan diobati dengan pengobatan ala kampung seperti pemberian minyak yang diolah dari ramuan tradisional dengan bacaan-bacaan dari tabib.
Setahun bertahan dengan kondisi itu, Rudi seakan diberi jalan kesembuhan untuk anaknya dengan perbaikan gizi lewat perantara perangkat desa dan ibu-ibu posyandu.
Sebelum pandemi, diakui Rudi, karena kesibukan dan ekonomi yang berkecukupan kala itu, ia tidak pernah membawa anaknya ke puskesmas dan posyandu. Pemeriksaan kesehatan anak-anaknya selalu ditempuhnya ke dokter spesialis di rumah sakit swasta. Jadi ia pun tidak tahu ada program di desanya. Kini, dengan kondisi ekonominya yang sulit akibat pandemi, Rudi rutin membawa buah hatinya ke posyandu.
Begitu senangnya Rudi ketika Raihan dinyatakan lepas dari balita stunting pada April 2022 lalu. “Berarti bapak dan anaknye udah sesuai, besak badannye, haha,” kelakar Rudi.
“Sindiran” ibu-ibu posyandu ternyata memotivasi Rudi dalam perbaikan gizi pada anaknya. Memiliki badan yang besar, Rudi dan istri kadang merasa malu sering disebut tak sesuai dengan badan anaknya. Keakrabannya dengan pengelola posyandu dan pihak desa juga membuatnya merasa nyaman untuk berkonsultasi.
Adanya bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diberikan kepada balita stunting, serta konsultasi gratis turut membantu Rudi dalam pemenuhan gizi anaknya. Kini Rudi akan menyambut anak keempatnya. Istrinya yang sedang hamil dua bulan juga dalam pantauan puskesmas setempat.
Ahli gizi dari Politeknik Kesehatan Pontianak, Martinus Ginting mengatakan, pencegahan memang dimulai sejak dari masa kehamilan. Pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil, terutama makanan yang mengandung zat besi dan protein hewani.
Risiko terjadinya stunting dipengaruhi beberapa hal, diantaranya anemia atau kekurangan sel darah merah dan Kekurangan Energi Kronis (KEK), atau asupan gizi oleh ibu hamil. Anemia diukur dari Hb (hemoglobin) atau sel darah merah. Hb sendiri terdiri dari dua unsur Heme dan globin. Heme berupa zat besi hewani, sedangkan globin salah satu jenis protein.
Dikatakan Martinus, terjadinya stunting pada anak juga memiliki keterkaitan yang cukup erat antara berat badan lahir dengan panjang lahir.
“Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg, akan memiliki risiko terjadinya stunting sekitar lima persen. Demikian juga jika panjang bayi yang lahir kurang dari 48 cm, risiko terjadinya stunting lima kali lebih besar dibanding anak yang lahir normal,” jelasnya.
Sejak tahun lalu, kasus stunting di Desa Serdam meningkat. Dari lima balita yang terdeteksi di tahun 2020, naik di tahun 2021 dan 2022 tercatat 54 balita stunting dari 1.169 balita yang ada di Desa Sungai Raya Dalam.
Kalbar merupakan salah satu provinsi dengan jumlah stunting yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi balita stunting berada di angka 29,8 persen.
Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Provinsi Kalbar, Ria Norsan optimis angka stunting di Kalbar dapat ditekan dari 29,8 persen menjadi 25,49 persen di penghujung tahun 2022. Hal itu diungkapkan saat pembukaan Rapat Koordinasi Teknis TP2S, belum lama ini.
Norsan mengatakan, dalam upaya percepatan penurunan stunting, pihaknya telah melakukan sinergi dengan beberapa instansi terkait, seperti TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa. (**)