Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kepingan Surga di Jantung Borneo

izak-Indra Zakaria • 2022-12-26 10:44:21
Wisatawan menyusuri Danau Sentarum dengan menggunakan kapal bandong. ISTIMEWA
Wisatawan menyusuri Danau Sentarum dengan menggunakan kapal bandong. ISTIMEWA

Danau Sentarum penuh pesona. Alam yang eksotis menjadikannya sebagai destinasi wisata terkenal di Kalimantan. Dibalik keindahan, kekayaan alamnya juga menjadi penopang perekonomian masyarakat di sekitar. Yakni, melalui produksi madu dan pengolahan ikan.

Ramses Tobing, Pontianak

PERJALANAN menuju Danau Sentarum dari ibukota Kalimantan Barat, Pontianak, terasa melelahkan. Memakan waktu hampir 14 jam melalui jalan darat untuk sampai ke Putussibau, Kapuas Hulu. Namun, jika tak memiliki banyak waktu, bisa menggunakan pesawat. Hanya 40 menit dari Kota Pontianak.

Dari Putussibau, perjalanan dilanjutkan selama tiga jam untuk sampai ke Kecamatan Landjak, yang menjadi pintu masuk ke Danau Sentarum. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menggunakan speed boat untuk ke lokasi tujuan.

Namun, lelah perjalanan panjang itu tergantikan dengan keindahan Danau Sentarum. Coklat kehitaman air danau yang dipengaruhi gambut terlihat begitu eksotis. Semakin lengkap dengan berbagai jenis vegetasi pohon yang menjulang tinggi.

Ada enam spot wisata di Taman Danau Sentarum. Yakni, Pulau Sepandan, Bukit Tekenang, Bukit Vega, Bukit Semujan, Rumah Betang Meliau, dan susur danau dengan Kapal Bandong. Masing-masing memiliki keindahannya yang bisa menarik wisatawan datang. 

Di Sepandan, pengunjung bisa menginap di resort. Letaknya di kaki bukit. Dua bangunan resort itu berada di atas air. Pemandangan matahari tenggelam di sana begitu indah. Dapat menenangkan hati yang gundah.

Pemandangan dari atas Bukit Tekenang tak kalah. Untuk mencapai puncak bukit setinggi 300an Mdpl memerlukan waktu pendakian 30 hingga 60 menit. Dari puncak pemandangan terlihat luas. Bentangan air yang dikurung perbukitan.

Jika ingin melihat budidaya ikan arwana, Bukit Vega tempatnya. Budidaya ini dilakukan masyarakat di sana. Tak hanya menjadi penghasilan warga, melainkan juga sebagai konservasi arwana agar terjaga habitat aslinya.

Selain Bukit Tekenang dan Vega, juga terdapat Bukit Semujan dengan ketinggian sekitar 300 mdpl. Di puncak bukit ini banyak bebatuan besar. Ada satu bebatuan yang menjorok keluar dari dinding. Orang-orang menyebutkan Cukah Batu Rawan. Anekdot dari orang-orang disana, “Anda belum sampai, jika belum menginjakkan kaki di Cukah Batu Rawan,”. Begitu berdiri di atas batu ini, bisa melihat keindahan pulau yang merupakan kumpulan dari pepohonan di Danau Sentarum.

Di Danau Sentarum juga terdapat Rumah Betang Meliau dengan perkampungan kecil masyarakat dayak. Di sana, bisa melihat kearifan lokal yang jarang ada di perkotaan. Salah satunya aktivitas menganyam keranjang.

Wisatawan sedang berfoto di depan resort Pulau Sepandan. ISTIMEWA

 

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak Balai Besar Tana Bentarum, Gunawan Budi Hartono mengatakan Danau Sentarum seperti labirin. Begitu unik. Semakin tinggi kedalaman air, maka jalur yang dilintasi semakin berbeda.

Danau sentarum dapat menjadi penampung air untuk Sungai Kapuas. Saat sungai kering, Danau Sentarum akan memompa airnya untuk mengalir ke Sungai Kapuas. Sebaliknya danau sentarum akan menampung ketika debit air sungai sedang tinggi. Sehingga jika Sungai Kapuas disebut sebagai nadi, maka Danau Sentarum menjadi jantung sungai.

Luas danau purba ini 127.393, 4 hektar. Total luasan itu terbagi dalam beberapa zona. Zona inti 5.131,43 hektar, rimba 6.781,28 hektar, pemanfaatan bidang wisata 1,309,59 hektar, rehabilitasi 1.976,82 hektar, tradisional 111.298,82 hektar dan khusus 895,46 hektar.
“Lebih dari 90 persen adalah zona pemanfaatan, yang bisa dilakukan aktivitas masyarakat, sehingga tidak terganggu dengan adanya status kawasan. Masyarakat mendapatkan ruang yang cukup untuk beraktivitas,” terang Gunawan.

Flora dan fauna Danau Sentarum begitu menarik. Salah satunya ikan arwana Super Red atau silok merah. Ikan ini menjadi ikon dari Danau Sentarum.
“Danau Sentarum menjadi habitat satu-satunya Arwana super red di dunia. Jika datang kemanapun tidak pernah akan menemukan habitat aslinya, karena asalnya dari Danau Sentarum,” kata Gunawan.

Satwa lainnya, buaya senyulong, orang utan, bekantan, enggang, dan beruang madu, termasuk langur borneo. Khusus langur borneo, sebelum 2018, hewan dengan nama lainya lutung sentarum hanya ditemukan di Malaysia. Ternyata setelah dilakukan eksplorasi, hewan ini juga ditemukan di kawasan Danau Sentarum. “Kami ekspos di Yogyakarta bersama ahli primata dunia untuk membahas ini. Ternyata di Danau Sentarum lebih banyak populasinya dibandingkan Malaysia. Jadi IPB sudah membuat perjanjian kerjasama untuk eksplorasi,” kata Gunawan.

 

Temuan itu, lanjut Gunawan, menjadi daya tarik peneliti untuk datang ke Danau Sentarum. Terutama bagi yang ingin melihat karena menjadi temuan langka di kawasan konservasi. Sementara itu, Taman Nasional Danau Sentarum mencatat ada 266 jenis ikan, lalu 147 jenis mamalia, 310 jenis burung, dan 31 jenis herpetofauna. Keunikan lainnya ada 154 jenis anggrek.

Menurut Gunawan, ada 12 desa di dalam kawasan tersebut. Masyarakat yang beraktivitas di dalam dan luar kawasan sebanyak 14.558 jiwa. Sedangkan yang tinggal di dalam kawasan sekitar 10 ribuan jiwa. Sisanya di luar kawasan.

Gunawan menjelaskan pihaknya membuat sistem sehingga aktivitas yang dilakukan masyarakat tidak merusak kawasan. Misalnya, membuat ukuran jaring yang dibolehkan untuk menangkap ikan masyarakat. Maksudnya agar anak-anak ikan tidak tertangkap, sehingga keberlangsungan satwa tetap terjaga. Pada habitat arwana, jika mendapat indukan saat memancing, wajib mengembalikannya ke alam.
“Hanya boleh menangkap anaknya saja. Aturan itu dibuat, berbasis kearifan lokal di masyarakat,” kata Gunawan.

Dari sisi perekonomian, Gunawan mengungkapkan Kapuas Hulu menjadi penyuplai ikan air tawar di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Jumlahnya mencapai 56 persen. Nilai ekonomi ikan yang ditangkap masyarakat mencapai Rp15,5 miliar per tahun.
“Jadi disuplai dari Kapuas Hulu, termasuk Danau Sentarum,” jelas Gunawan.

Potensi lain yang sangat terkenal adalah madu hutan. Produksinya mencapai 10 hingga 30 ton per tahun. Bahkan, kini sudah ada rumah produksi. Masyarakat yang mengerjakannya dan memiliki branding sendiri. Yakni Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS).
“Lebah madu Danau Sentarum, hanya menghisap dari bunga. Itu yang menyebabkan madu dari Danau Sentarum tidak akan pernah beku di freezer,” terang Gunawan. 

Rumah Produksi Madu di Pulau Majang

Pulau Majang adalah desa penghasil madu di Danau Sentarum. Rumah-rumah masyarakat disini berdiri di atas sungai. Jembatan kayu atau biasa disebut gertak menjadi penghubungnya.

 

Produksi madu di Pulau Majang. RAMSES/PONTIANAK POST

 

Selain sebagai pemanen madu, warga Pulau Majang juga mencari ikan. Salah satunya ikan toman yang diolah menjadi ikan asin. Ikan-ikan yang sudah ditangkap itu dikeringkan. Dijemur di bawah sinar matahari.

Pemanen madu di Pulau Majang ini berbentuk kelompok. Jumlahnya sekitar 30 orang. Warga membawa hasil panennya itu ke kelompok. Kemudian diolah dan dikemas, lalu dijual. Ada rumah khusus yang disiapkan untuk memajang produk-produk hasil kerja masyarakat.
Madu umumnya dipanen dua kali dalam satu tahun. Bulan Juni dan Desember. Pemanennya ada dua orang. Turunnya malam hari. Biasanya turun habis maghrib. Baru kembali jelang tengah malam.

Saat proses mendapatkan madu ada istilah yang disebut tikung. Memanen madu di sarang lebah yang ada di dahan buatan. Tikung diartikan dahan buatan yang dipasang di pohon-pohon agar lebah bersarang. Sekali panen bisa mendapat ratusan kilo. Madu dipanen dari puluhan sarang.

Madu yang sudah diambil tidak bisa langsung dijual. Madu itu disimpan dulu. Pagi harinya sarang madu yang sudah diambil diiris-iris. Kemudian ditiriskan pada tempat yang sudah disediakan. Madu dibiarkan menetes dari sarang-sarang yang telah diiris-iris.
“Jadi tidak menggunakan peras. Proses ini berjalan setengah hari,” kata Wan Sudirman pemanen madu di Pulau Majang.

Madu yang sudah ditiriskan belum langsung dikemas. Dibiarkan dulu hingga satu malam untuk mengurangi kadar air. Semakin berkurang kadar airnya madu semakin kental.
“Ada penguapannya dan mesti dijaga. Setelah proses penguapan selesai baru dikemas,” terang anggota kelompok Madu Periau Pulau Majang ini.

Wan Sudirman menambahkan madu yang siap kemas itu diantar ke kelompok untuk dikemas. Kemasannya beragam. Ada yang 300 gram dan ada yang satu kilo. Madu yang sudah dikemas siap dipasarkan.
“Nanti kelompok yang mengelola. Kami mendapatkan bayaran sesuai dengan yang diserahkan dan setelah terjual. Anggota kelompok memberikan iuran,” terang Wan Sudirman.

Kepala Resort Pulang Majang Irawan Hadiwijaya mengatakan madu hasil produksi periau Pulau Majang cukup terkenal. Tidak hanya untuk masyarakat setempat tapi juga dari luar Kapuas Hulu. Hasil madu untuk sekali produksi bisa mencapai 20 ton. Namun, musim panen madu tidak setiap tahun ada. Karena terkait dengan ketersediaan pakan.
Sementara ketersediaan pakan dipengaruhi dari kondisi alam. Salah satunya banjir. Banjir yang terjadi membuat sumber pakan lebah hilang. Faktor lainnya angin. Bunga yang belum sempat dihisap oleh lebah, sudah keburu diterbangkan angin. Tiupan angin yang begitu kencang juga menyulitkan lebah membuat sarang di pohon-pohon sekitar Pulau Majang. Akibatnya lebah lari ke perbukitan.

Lanjut Irawan, para petani sudah didik cara memanen madu. Ia menyebutnya dengan konsep panen lestari. Ada prosedur yang harus dilakukan pemanen. Salah satunya menggunakan sarung tangan.
“Madu kalau bersentuhan langsung akan mempengaruhi mutu. Lalu Madu disini diteteskan. Jika diperas mempengaruhi kualitas madu,” kata Irawan.

Selain madu, potensi lainnya di Pulau Majang adalah ikan. Ada 30 lebih jenis ikan di Pulau Majang. Mayoritas adalah ikan konsumsi. Hasil produksi olahan ikan rerata mencapai 10 hingga 20 ton.
“Itu yang tercatat di pengepul resmi. Jumlah pastinya tentu lebih besar karena ada yang menjual tidak ke pengepul tapi ke lokasi tujuan,” terang Irawan.

Lanjut Irawan pihaknya memberikan pemberdayaan ke masyarakat terhadap produk-produk unggulan di Pulau Majang. Antara lain madu dalam bentuk kemasan. Khusus ikan, produknya ada yang berbentuk ikan asin, ikan salai, bakso ikan, dan sosis ikan. “Jadi ada diversifikasi usaha. Ada nilai tambah untuk masyarakat disini,” ujar Irawan.

Dukung Pengembangan Potensi Destinasi Wisata

Kepala Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini melihat Danau Sentarum memiliki potensi destinasi wisata yang besar. Hanya saja perlu keseriusan dari pengelola agar dikemas dengan baik. Termasuk fasilitas di dalamnya agar lebih nyaman dikunjungi.

Agus mencontohkan pada aktivitas memanen madu. Diakuinya proses ini bisa saja dilihat di media sosial. Hanya saja akan lebih menarik jika bisa melihat secara langsung prosesnya. Bagaimana madu itu dipanen dari sarang lebah yang ada di pepohonan. Ini, kata Agus bisa sebagai even wisata. “Kalau dimungkinkan (festival panen madu.red) untuk dilakukan. Termasuk proses bagaimana madu itu diproses. Jika bisa dikenalkan maka keren,” jelas Agus.

Agus menyatakan pihaknya berkomitmen kuat dalam pengembangan wisata di Kalimantan Barat. Selama ini Bank Indonesia sudah koordinasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata. Tidak hanya tingkat provinsi tapi juga kabupaten yang tujuannya untuk pengembangan wisata. 

Namun, lanjut Agus, dukungan itu disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, secara dukungan fisik, pelatihan untuk pokdarwis, atau pameran pariwisata. Pihaknya bahkan ikut serta pada even-even internasional untuk mengenalkan destinasi wisata di Kalimantan Barat.
“Misalnya di Mempawah. Mangrove sudah jadi. Jadi bantuannya dalam bentuk renovasi. Kalau untuk pokdarwis. Bisa pelatihan dan peralatan. Jadi kami melakukan evaluasi. Apa yang mereka butuhkan akan dipenuhi sesuai kemampuan anggaran,” terang Agus.

Agus menambahkan untuk mempromosikan destinasi wisata juga dibutuhkan dari media. Pihaknya berharap media bisa mengeksplor Danau Sentarum sehingga bisa dikenal masyarakat luas. Cara itu dilakukan sebagai persiapan ketika pandemi telah usai.

Dalam catatan TNDS, kunjungan wisatawan ke Danau Sentarum turun drastis selama terjadinya Pandemi Covid-19. Sejak tahun 2016 hingga 2019, kunjungan wisatawan terus meningkat. Namun dari tahun 2019 hingga 2021 turun drastis. Tahun 2019 kunjungan wisatawan sempat mencapai 6.714 jiwa per tahun. Namun turun drastis ketika menuju tahun 2020 hingga 2021. Lalu melonjak naik dari tahun 2021 ke 2022. Jumlahnya sudah mencapai 6.105 jiwa per tahun. “Jadi ada persiapan, jika pandemi selesai, Kalbar tidak telat dan bisa cepat pulih. Jika Pariwisata hidup maka UMKM hidup. Karena produknya bisa dibeli pengunjung,” pungkasnya. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria