Ketua Satgas Informasi Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel Sinyor mengungkapkan pihaknya mendorong semua pemkab/pemkot untuk melakukan berkoordinasi lintas instansi.
Hal ini dilakukan sebagai respon BPBD Provinsi Kalbar terhadap peringatan dini BMKG Kalbar. Selain itu, juga menetapkan status siaga darurat banjir, puting beliung dan tanah longsor melaksanakan patroli air untuk mengawasi sungai-sungai yang berpotensi meluap di saat turun hujan.
"Kami mendorong seluruh warga agar terap memperhatikan kebersihan lingkungan," katanya Kepada Pontianak Post Rabu (12/3). Daniel mengungkapkan, ada 559 desa dan kelurahan di Kalbar yang dipetakan sebagai daerah rawan banjir. Daerah tersebut tersebar di 14 kabupaten/kota. "Di semua kabupaten dan kota itu terdapat daerah-daerah yang berpotensi rawan banjir," ujarnya.
Pemetaan ini, lanjut dia dilakukan agar pemerintah daerah mulai memikirkan mitigasi yang harus dilakukan. "Bicara mitigasi ini kan ada dua, mitigasi nonstruktural dan mitigasi struktural," ujarnya.
Daniel menjelaskan, mitigasi nonstruktural itu berupa regulasi, aturan, perda, pergub, dan lainnya yang mengatur bagaimana masyarakat mengolah lingkungan ini dengan baik. "Kami percaya semua itu sudah dilakukan pemerintah kabupaten dan kota termasuk pemerintah provinsi," ungkapnya.
Mitigasi struktural berkaitan dengan pembangunan fisik. Jika dilihat kejadian banjir di Kalimantan Barat ini, di awal 2025 ini sudah melanda 8 kabupaten/kota, maka lanjut Daniel akar persoalan banjir di Kalbar bukan disebabkan hujan sebagai faktor utamanya.
"Jadi hujan itu hanya pemicu. Akar persoalan itu soal lingkungan kita yang sudah mulai rusak, kurangnya kapasitas sungai dan saluran untuk menampung curah hujan sehingga meluap. Untuk kondisi ini mesti dilakukan normalisasi sungai secara berkelanjutan, karena tidak mungkin keuangan daerah mampu menyelesaikan dalam satu waktu tertentu," timpalnya.
Banyak juga drainase di wilayah perkotaan yang bermasalah sehingga perlu dilakukan revitalisasi supaya berfungsi dengan baik. "Kita lihat kalau di Kota Pontianak, kita pergi ke Siantan, ke jembatan tol yang baru itu, hujan beberapa menit saja, di turunannya sudah mulai banjir. Itu harus dilihat drainasenya. Bukan tidak ada, ada, tetapi berfungsi atau tidak?" paparnya.
Akar persoalan lainnya tutupan hutan yang berkurang di wilayah hulu sungai. Solusinya, lanjut dia harus ada reboisasi dan penguatan penegakan hukum bagi pelanggar aturan.
"Jadi tidak boleh ada pembiaran, harus ditindak tegas. Belum lagi berbicara soal tata ruang yang tidak sesuai daerah aliran sungai," katanya.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalbar memprakirakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat pada periode tanggal 11 sampai dengan 20 Maret 2025.
Erika Mardiyanti, Kepala Stasiun Meteorologi Supadio mengatakan dalam seminggu terakhir hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat telah terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar. Kondisi cuaca tersebut memberikan dampak bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, dan dampak angin kencang di beberapa wilayah.
"Hujan intensitas lebat masih berpotensi terjadi cukup merata di wilayah Kalimantan Barat pada periode tanggal 11 sampai dengan 20 Maret 2025. Hujan yang akan terjadi masih berpotensi disertai dengan petir dan angin kencang berdurasi singkat," ungkapnya.
Wilayah pesisir barat Kalbar berpotensi terjadi banjir rob pada periode tanggal 11 hingga 14 Maret 2025. Pasang maksimum berpotensi terjadi sekitar pukul 03.00 WIB - 07.00 WIB (dini hingg pagi hari) dengan ketinggian antara 1,6 – 1,7 meter. Gelombang Kategori Sedang berpotensi terjadi di Perairan Sambas pada periode tanggal 11 sampai dengan 20 Maret 2025.
"Sehubungan dengan masih berpotensi adanya hujan lebat di wilayah Kalbar, maka diimbau kepada masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi seperti banjir, banjir bandang, genangan, tanah longsor, pohon tumbang, angin kencang, dan sambaran petir. Wilayah bertopografi curam/berbukit patut waspada potensi longsor dan banjir bandang pada saat terjadi hujan intensitas sedang - lebat bahkan ekstrem yang terjadi dalam durasi panjang," imbaunya. (mrd)
Editor : Indra Zakaria