PONTIANAK – Meski belum memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui wilayah Kalimantan Barat. Anomali cuaca yang ditandai dengan suhu udara tinggi dan minimnya curah hujan pada pertengahan Januari 2026 telah memicu kemunculan titik panas (hotspot) dan kebakaran di sejumlah lahan gambut.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di sebagian besar wilayah Kalbar seperti Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, dan Ketapang berada dalam kategori rendah hingga sangat rendah. Bahkan, beberapa daerah telah mencatatkan hari tanpa hujan hingga 11 hari berturut-turut. Kondisi ini diprediksi akan bertahan setidaknya hingga akhir Januari 2026.
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk siaga penuh. Fokus utama pemadaman saat ini berada di Kabupaten Kubu Raya, yang telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 14 Januari lalu.
Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan dikerahkan untuk menjinakkan api yang membakar lahan gambut. Proses pemadaman di Kubu Raya dilaporkan cukup berat karena api merambat di bawah permukaan tanah dan tim di lapangan terkendala oleh terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar, Adi Yani, menegaskan agar seluruh Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) bergerak cepat melakukan patroli intensif. Ia juga meminta pemegang izin usaha kehutanan dan perkebunan untuk aktif menjaga wilayahnya masing-masing agar api tidak meluas. Sementara itu, BPBD Kalbar mencatat terdapat sedikitnya 180 titik panas yang terpantau satelit pada periode 18-19 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, terdapat indikasi kuat titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu, dan Sekadau. (*)
Editor : Indra Zakaria