PROKAL.CO- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan nutrisi siswa, kini justru memicu gelombang kekecewaan di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Alih-alih mendapatkan sajian yang menggugah selera, sejumlah orang tua murid dan guru mengeluhkan kualitas menu yang disalurkan oleh Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Keresahan ini mencuat ke permukaan setelah berbagai unggahan bernada sindiran viral di media sosial dan pesan singkat WhatsApp. Kekecewaan publik memuncak saat diketahui bahwa distribusi makanan dilakukan dengan sistem "rapel" atau dibagikan sekaligus untuk jatah tiga hari kedepan. Ironisnya, kualitas bahan pangan yang diterima dianggap jauh dari standar layak, termasuk temuan telur yang kondisinya masih mentah atau belum matang sempurna.
Seorang guru di salah satu sekolah di Sukadana yang meminta identitasnya dirahasiakan menyatakan keprihatinannya atas kondisi ini. Menurutnya, paket makanan yang diterima siswa sangat tidak sesuai dengan harapan, terutama mengingat program ini didukung oleh anggaran negara yang signifikan. Ketimpangan antara alokasi dana dan realitas di lapangan memicu spekulasi negatif di kalangan tenaga pendidik dan wali murid.
Hingga saat ini, pihak SPPG Kayong Utara belum memberikan pernyataan resmi maupun klarifikasi terkait standar operasional prosedur distribusi tersebut. Masyarakat mempertanyakan mengapa jatah tiga hari harus diberikan sekaligus, serta bagaimana pengawasan terhadap mutu gizi dan higienitas makanan yang sampai ke tangan siswa.
Persoalan ini menjadi catatan kritis bagi pelaksanaan program MBG di wilayah Kalimantan Barat. Transparansi mengenai anggaran per porsi serta mekanisme kontrol kualitas di tingkat satuan pemenuhan gizi sangat dinantikan publik agar tujuan mulia program ini dalam mencetak generasi sehat tidak tercoreng oleh kendala teknis dan dugaan ketidakefektifan anggaran. (*)
Editor : Indra Zakaria