BANJARBARU - Jumat (5/7) kemarin, hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA diumumkan. Sejumlah calon siswa bersama orang tuanya tampak mendatangi sekolah, untuk mengetahui apakah mereka diterima atau tidak.
Seperti yang terlihat di SMAN 2 Banjarbaru, sebuah papan pengumuman yang memuat daftar nama peserta yang lulus pada PPDB di sekolah tersebut tampak dikerumuni para calon siswa.
Banyak dari mereka tersenyum bahagia, karena namanya masuk dalam daftar. Namun, adapula yang memperlihatkan wajah kecewa lantaran namanya tidak ada di daftar.
Bahkan, adapula orang tua yang protes ke pihak sekolah dan menanyakan kenapa nama anak mereka tidak ada. Padahal, tempat tinggalnya masuk di dalam zonasi.
"Tetangga saya di kompleks sebelah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah kami bisa masuk, kok anak saya tidak masuk?" kata salah seorang wanita saat mempertanyakan hasil PPDB ke Kepala SMAN 2 Banjarbaru, Ehsan Wasesa.
Wanita yang enggan menyebutkan namanya tersebut merincikan, bahwa mereka tinggal di Kompleks Bukit Permata Indah, sementara anak tetangganya yang dia maksud berdomisili di Kompleks Bukit Permata Hijau. Sama-sama di Kelurahan Sungai Ulin, Banjarbaru.
"Masa cuma beda beberapa ratus meter, sudah beda. Di sana diterima, tapi anak saya tidak," keluhnya.
Menanggapi protes dari orang tua calon siswa itu, Kepala SMAN 2 Banjarbaru Ehsan Wasesa menjelaskan bahwa, yang menentukan peserta masuk atau tidaknya di jalur zonasi adalah sistem. "Di sistem sudah ada maps-nya. Berapa jarak pendaftar dari sekolah. Yang paling dekatlah yang akan diterima," jelasnya.
Dia mengungkapkan, jangankan selisih ratusan meter. Selisih dua meter saja katanya sangat berpengaruh. "Ada juga yang protes, tetangganya yang hanya lebih dekat dua meter dari sekolah bisa diterima lewat jalur zonasi. Sementara anaknya tidak," ungkapnya.
Lanjutnya, PPDB tahun ini memang banyak diwarnai protes dari orang tua. Bahkan sejak hari pertama pendaftaran. "Iya banyak yang protes. Tapi, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, kebijakan ada di Disdik. Jadi kalau ada yang protes, kami minta untuk konsultasi ke sana," ucapnya.
Disinggung ada berapa peserta yang tersisih dengan adanya sistem zonasi, Ehsan merincikan, kuota yang tersedia di SMAN 2 Banjarbaru sebanyak 320, sedangkan jumlah pendaftar 390. Dengan begitu, mereka harus menyisihkan 70 peserta.
Sementara itu, di SMAN 1 Banjarbaru suasana yang hampir sama juga terlihat. Di mana ada beberapa orang tua yang mempertanyakan hasil PPDB ke para panitia. Namun, sama seperti di SMAN 2 Banjarbaru. Pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa lantaran yang menentukan peserta masuk atau tidaknya adalah sistem.
"Kalau ada orang tua yang bersikeras, kami arahkan saja untuk berkonsultasi ke Disdik. Supaya tahu bagaimana peraturannya," ungkap Kepala SMAN 1 Banjarbaru, Eko Sanyoto.
Dia menuturkan, gara-gara aturan tersebut pada PPDB tahun ini pihaknya menyisihkan ratusan siswa lantaran keterbatasan kuota. "Kuota kami hanya 256, sedangkan yang mendaftar lebih dari 522. Dengan begitu, kami harus menyisihkan 260 lebih pendaftar," paparnya.
Secara terpisah, menanggapi banyaknya protes dari orang tua akibat aturan zonasi, Kabid Bina SMA pada Disdik Kalsel, Muhammadun meminta agar para orang tua bisa bersabar. "Karena ini aturan dari pusat, bagi yang belum beruntung diharapkan bisa sekolah di swasta. Jangan sampai putus sekolah," imbaunya.
Menurutnya, sekolah swasta tidak kalah bagus dengan negeri. Bahkan, fasilitasnya ada yang lebih baik dari sekolah negeri. "Contohnya SMA PGRI 2 Banjarmasin, SMA Korpri Banjarmasin dan SMA PGRI 6 Banjarmasin. Meski swasta fasilitas mereka juga baik. Bahkan setiap kelasnya ber-AC," tandasnya.
Dia menekankan, dimanapun sekolah kalau anaknya rajin maka suatu saat akan berprestasi dan bisa masuk ke perguruan tinggi manapun. "Yang terpenting itu bukan sekolahnya, asalkan rajin Insya Allah akan sukses," pungkasnya. (ris/by/bin/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin