Hingga kini, baru ada dua pasangan calon yang digadang-gadang maju pada Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Banjarbaru: Aditya-Iwansyah dan Nadjmi-Jaya. Jika susunan itu tidak berubah, mungkin kantong-kantong pendukung mereka sudah hampir bisa dipetakan.
Kantong suara dua paslon itu dapat dilihat dari pemilu-pemilu sebelumnya. Untuk Aditya-Iwansyah misalnya, lumbung pendukung mereka bisa diketahui dari perolehan suara saat keduanya mengikuti Pemilihan Legislatif 2019 tadi. Aditya di Pemilihan Anggota DPR RI, sedangkan Iwansyah di Pemilihan Anggota DPRD Banjarbaru.
Khusus untuk Aditya, meski tidak lolos ke Senayan, dia mampu meraih 10 ribu suara lebih di Banjarbaru. Yang merupakan daerah pemilihan (dapil) 2 Kalsel. Di mana, berdasarkan data KPU Banjarbaru suara terbanyak diraihnya di Kecamatan Landasan Ulin, dengan 3.226 suara.
Selain itu, dia juga mampu meraih dua ribu lebih suara di dua kecamatan lainnya. Yakni, Banjarbaru Utara; 2.137 suara dan Banjarbaru Selatan; 2.007 suara.
Di sisi lain, pasangannya; Iwansyah juga menjadi penguasa di Landasan Ulin. Yang merupakan dapil 4 di Pileg Banjarbaru. Di sana, suara Ketua DPRD Banjarbaru ini jadi yang terbanyak. Dengan, 1.948 suara.
Sementara itu, untuk Nadjmi-Jaya peta pendukung keduanya bisa dilihat ketika menjadi pasangan pada Pilwali Banjarbaru 2015 silam. Saat itu, mereka mengusai empat kecamatan: Landasan Ulin, Liang Anggang, Banjarbaru Utara dan Banjarbaru Selatan.
Ironisnya, suara terbanyak mereka juga berada di Kecamata Landasan Ulin dengan 10 ribu lebih. Yang notabene, daerah tersebut juga menjadi wilayah kekuasaan Aditya-Iwansyah pada Pileg 2019 tadi.
Namun, hasil pemilu sebelumnya memang tidak bisa dijadikan patokan. Semua tergantung bagaimana cara para paslon menarik minat masyarakat pada pilwali Banjarbaru nanti.
Saat dikonfirmasi mengenai di mana kemungkinan lumbung suara mereka, Aditya Mufti Ariffin juga mengaku masih belum mengetahuinya. "Potensi suara masih kita gali, dengan sumberdaya yang ada. Baik dari internal, maupun eksternal," katanya.
Hal senada disampaikan Nadjmi Adhani, menurutnya jadwal Pilkada masih sangat panjang. Sehingga, segala kemungkinan masih bisa terjadi. "Termasuk, berapa jumlah pasangan yang ikut nanti belum bisa ditebak. Karena masih terbuka lebar bagi siapa pun tokoh yang ingin maju meramaikan pemilihan nanti," ucapnya.
Harus Kerja Keras di Cempaka
Sementara itu, kuat di Landasan Ulin, Aditya-Iwansyah dan Nadjmi-Jaya ternyata sama-sama lemah di Cempaka, pada pemilu yang mereka ikuti sebelumnya.
Nadjmi-Jaya misalnya, berdasarkan data KPU Banjarbaru pada Pilwali 2015 di Cempaka mereka kalah dengan pesaingnya. Meski, di empat kecamatan lainnya menang. Saat itu yang memperoleh suara terbanyak ialah pasangan Joko Triono- Soegeng Susanto.
Sedangkan Aditya, pada Pemilihan Anggota DPR RI dia juga tak bisa berbicara banyak di Cempaka. Ovie hanya meraih 1.689 suara. Kalah telak dengan pesaingnya; Hasnuryadi Sulaiman yang mampu mendapatkan 3.197 suara.
Namun, jika berbicara partai. Pada pileg 2019, Golkar mampu menjadi penguasa di Cempaka. Bahkan, caleg Banjarbaru: Taufik dari Golkar meraih suara terbanyak di sana. Jika memang Aditya-Iwansyah akan diusung Golkar, mungkin hal itu bisa jadi modal untuk menang di Cempaka.
Akan tetapi, Taufik menyebut dalam menentukan pilihan pada pemilu, masyarakat Cempaka tidak melulu melihat apa partainya. Melainkan, melihat siapa sosok figurnya. "Masyarakat Cempaka memang sulit ditebak. Tapi, kebanyakan melihat sosok figurnya. Terkenal atau tidak orangnya? Akrab atau tidak dengan mereka? Dan apa aja yang sudah dilakukan di Cempaka?" ujarnya.
Jika memang masyarakat melihat sosok figur, untuk menentukan pilihan. Mungkin, Nadjmi-Jaya bisa lebih dikenal di sana. Sebab, selama lima tahun mereka memimpin Kota Banjarbaru. "Yang terpenting juga, sosok tim yang bergerak di lapangan. Kalau salah tunjuk, maka akan kalah," ucap Taufik. (ris/al/ris)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin