BANJARMASIN - Sempat akan diundur lantaran situasi yang panas, Musyawarah Daerah (Musda) X DPD Partai Golkar Kalsel akhirnya digelar di G-Sign Hotel Banjarmasin, kemarin. Yuni Abdi Nur Sulaiman terpilih menjadi Ketua DPD II Golkar Banjarmasin.
Yuni terpilih secara aklamasi mengganti Ananda untuk memimpin Golkar Banjarmasin. Sebelumnya, terdengar kabar Musda akan panas karena Ananda akan mencalonkan diri kembali sebagai Ketua DPD Golkar Banjarmasin.
Ananda mendapat dukungan dari DPP Golkar untuk berlaga di Pilwali Banjarmasin. Dia mematahkan apa yang diinginkan DPD Partai Golkar Kalsel yang menginginkan pasangan Abdul Haris-Yuni Abdi Nur Sulaiman maju di Pilwali Banjarmasin tahun ini.
Santer dikabarkan, siapa yang akan menjabat Ketua DPD Partai Golkar Banjarmasin, dialah yang akan diusulkan ke DPP Partai Golkar untuk berlaga di Pilkada Banjarmasin.
Informasi bakal panasnya Musda ini bahkan membuat Ketua DPD I Golkar Kalsel, Sahbirin Noor turun tangan. Dia disebut memberi opsi agar Ananda tetap fokus di Pilwali, dan jabatan Ketua DPD Partai Golkar Banjarmasin diemban Yuni Abdi.
Yuni sendiri tak menampakkan rasa kesal meski dia urung diusung pada Pilwali Banjarmasin. Putra almarhum Haji Abdusssamad Sulaiman itu menegaskan, pihaknya akan all out mendukung Ananda pada Pilwali Banjarmasin tahun ini. “Kami dukung penuh Ananda,” ujar Yuni usai dikukuhkan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Banjarmasin kemarin.
Yuni menjanjikan di bawah kepemimpinanya, Partai Golkar akan kembali menjadi partai politik pemenang di Pemilu mendatang. Untuk diketahui, pada Pemilu 2019 tadi, Partai Golkar harus kehilangan dua kursi di Banjarmasin.
Pada Pemilu tadi, partai Golkar hanya mendapat enam kursi DPRD Banjarmasin. Sementara pada Pemilu 2014 lalu, mereka mendapat delapan kursi yang mengantarkan kadernya sebagai Ketua DPRD Banjarmasin. Kursi ketua dewan harus direlakan mereka kepadq PAN yang menjadi jawara dengan perolehan 9 kursi di DPRD Banjarmasin. “Ketua DPRD Banjarmasin akan kami rebut kembali,” janjinya.
Ananda sendiri tak mendaftar pada Musda kemarin. Dia tampak legawa. “Supaya saya fokus pada Pilwali, maka saya estafetkan kepada Pak Yuni. Jadi semua punya peran dan Insya Allah semua senang,” ucapnya.
Sebelumnya, pada Sabtu (15/8) pagi, Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) Musda X Partai Golkar Kota Banjarmasin menggelar jumpa pers. Dalam keterangan Ketua OC Musda X Partai Golkar Kota Banjarmasin Budiansyah yang didampingi Sekretaris OC Arief Rahman menyampaikan, pihaknya bersepakat untuk melakukan penundaan Musda X DPD Partai Golkar Banjarmasin yang sudah dijadwalkan Minggu (16/8).
Alasannya karena adanya surat tertulis dari beberapa pemilik hak suara sah dalam Musda X Partai Golkar Kota Banjarmasin yang meminta penundaan. Hal ini karena sebelumnya mayoritas pemilik suara yang sah sudah bersepakat bahwa tidak akan memberikan dukungan kepada siapa pun sampai adanya keputusan dari DPP Partai Golkar untuk Pilwali Banjarmasin.
Hal ini mereka lakukan agar hasil Musda X Partai Golkar Kota Banjarmasin tahun 2020 menghasilkan keputusan yang selaras dengan putusan DPP Partai Golkar yang tujuan akhirnya adalah untuk membesarkan Partai Golkar.
Alasan lain dibeberkannya, besarnya potensi terjadinya chaos dalam even Musda kali ini, karena sama-sama kuatnya dukungan kedua belah pihak yang memperebutkan kursi Ketua Golkar Banjarmasin baik dari pendukung Ananda maupun Yuni Abdi.
Hampir seluruh pemilik hak suara yang berjumlah 11 orang suara mengaku sudah menandatangani dukungan tertulis bermaterai untuk mencalonkan kembali dan memilih Ananda sebagai Ketua Golkar Kota Banjarmasin pada tanggal 11 Juli Tahun 2020 di salah satu cafe di Banjarmasin. Namun dalam perjalanan waktu Yuni Abdi Nur Sulaiman juga ikut maju dan melakukan komunikasi dengan pemilik suara.
Agar tidak terbelah pemilik suara bersepakat kembali melakukan rapat internal dan kemudian menghasilkan sebuah keputusan bersama yang ditandatangani diatas materai dengan cap organisasi. Ada tiga keputusan yang diambil saat itu, diantaranya pertama sepakat untuk tidak akan memberikan dukungan secara lisan dan tertulis sampai ada Keputusan final dari DPP Partai Golkar terhadap calon walikota yang akan diusung.
Kedua adalah rekomendasi dukungan dari DPP Partai Golkar sendiri harus diperlihatkan kepada pemilik suara secara langsung dalam bentuk fisik dan sudah dipublikasikan di media. Lalu yang ketiga atau terakhir pemilik suara mendukung penuh dan siap memberikan dukungan lisan dan tertulis kepada siapa pun yang nantinya dipilih oleh DPP Partai Golkar sebagai Calon Walikota atau Wakil Walikota Banjarmasin yang akan diusung dalam Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Kota Banjarmasin Tahun 2020.
Kesepakatan bersama ini ditandatangani hampir seluruh pemilik hak suara pada tanggal 23 Juli Tahun 2020 di salah satu cafe di Banjarmasin. “Karena ada yang tidak komitmen dengan memberikan dukungan ganda, beberapa pemilik suara menunggu hasil DPP Partai Golkar tentang siapa kader yang diusung dalam Pilkada Tahun 2020 di Kota Banjarmasin mengadukannya ke kami agar pelaksanaan Musda ditunda,” paparnya.
Sementara, untuk alasan kedua adalah masih ngototnya kedua belah pihak, yaitu Ananda dan Yuni Abdi Nur Sulaiman untuk maju dalam Musda X Partai Golkar Kota Banjarmasin yang berpotensi membuat even musda yang akan dihelat dapat terjadi kegaduhan. “Karena itu lah ketimbang beresiko besar kami memutuskan untuk menundanya saja sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan sembari melakukan koordinasi dengan DPD Partai Golkar Provinsi Kalsel dan DPP Partai Golkar,” cetusnya.
Namun, pada sore harinya, panitia kembali menyampaikan bahwa Musda tetap akan digelar pada Minggu (16/8) sesuai jadwal. Nah, disela waktu siang tersebut, dikabarkan terjadi kesepakatan antara Ananda dengan Yuni. Ananda diminta untuk fokus di Pilwali, dan tampuk kepemimpinan Golkar Banjarmasin dijabat oleh Yuni Abdi. (mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin