Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ketika Dokter dan Pak Haji Bersatu, Jadilah Klinik dengan Ongkos Seikhlasnya

miminradar-Radar Banjarmasin • 2021-04-10 12:10:58
PEDULI: Fadlullah Karami dan Adelina Octavia, perawat dan dokter yang bertugas di klinik sederhana di Jalan Garuda VI tersebut. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
PEDULI: Fadlullah Karami dan Adelina Octavia, perawat dan dokter yang bertugas di klinik sederhana di Jalan Garuda VI tersebut. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Mengobati dengan patokan harga itu biasa. Tapi mengobati dengan bayaran seikhlasnya, itu baru luar biasa.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

DARI kejauhan, bangunan berkelir putih itu seperti rumah warga biasa. Tapi menilik ke dalam, ternyata klinik kesehatan.

Namanya Emerald Care. Artinya, pancaran kepedulian.

Sejak sepekan yang lalu, klinik sederhana di Jalan Garuda VI Basirih Selatan, Banjarmasin Selatan itu mulai dibuka.

Jangan bertanya soal tarif, karena di sini biaya pengobatan dibayar seikhlasnya. Uang pun tak diterima langsung oleh seorang dokter dan seorang perawat yang bertugas di situ.

Pembayaran dimasukkan ke dalam kardus yang diubah seperti celengan.

"Suka rela warga saja. Bayar berapapun diterima. Tinggal memasukkan uang saja ke kotak itu," kata sang dokter, Adelina Octavia, sembari menunjuk kotak di samping pintu klinik.

Ditemani rekan perawatnya, Fadlullah Karami, keduanya bahu-membahu menerima warga dari mana pun.

"Enggak terpaku hanya warga kampung sini. Dari mana pun boleh datang. Tanpa perlu membawa KTP atau dibebani persyaratan lainnya," tambahnya.

Dikunjungi Radar Banjarmasin kemarin (9/4) siang, saking sederhananya, klinik ini tak memiliki papan nama. Hanya ada spanduk membentang dengan keterangan nomor Surat Izin Praktik (SIP). Di bawahnya ada slogan, 'Siap Melayani Masyarakat Sepenuh Hati, Biaya Seikhlasnya'.

Di dalam, ruang tamu disulap menjadi ruang tunggu pasien. Lalu kedua kamar diubah menjadi ruang istirahat dan ruang pemeriksaan. Di situlah Adelina dan Fadlullah bekerja.

Sebuah klinik tentu memerlukan ongkos operasional. Apa cerita di balik klinik ini?

Perempuan 28 tahun itu menuturkan, klinik ini digagas seorang pengusaha pergudangan di Banjarmasin. Haji yang kaya itu ingin berbagi rezeki, membantu warga miskin.

"Beliau mencari dokter umum yang mau praktik di klinik ini. Kebetulan, beliau berteman dengan dokter gigi yang merupakan kenalan. Ditawari, ya, saya terima saja," ungkapnya.

Serupa dengan tawaran yang diterima Fadlullah. Setahunya, si pengusaha itu juga membuka klinik serupa di daerah lain. "Dengan konsep yang sama," kata pemuda 27 tahun tersebut.

Karena baru dibuka, yang berobat pun belum banyak. Rata-rata yang dilayani warga berusia 30 tahun ke atas. "Keluhannya sakit kepala, batuk, pilek dan mag," tuturnya.

Klinik itu juga memberikan obat-obatan. Tapi ditekankan Fadlullah, pelayanan mereka adalah penanganan awal. Kalau sudah penyakit berat, mereka akan menuliskan surat rujukan ke rumah sakit.

Disinggung buat apa uang di kotak kardus tersebut, apakah untuk gaji mereka berdua, Adelina menggelengkan kepala. Ditegaskannya, sepenuhnya dipakai untuk menunjang operasional klinik dan membeli obat-obatan.

Perihal jadwal praktik, pada Senin, Selasa dan Jumat adalah pukul 10.00-14.00 Wita. Sedangkan Rabu dan Kamis pukul 11.00-14.00 Wita. Kemudian Sabtu pukul 13.00-15.00 Wita.

"Terkecuali pada hari Minggu dan libur nasional," pungkasnya.

Bagaimana tanggapan warga? Suhartini mengaku sangat terbantu. Mengingat jarak ke puskesmas lumayan jauh.

"Sayang, belum banyak yang mengetahui keberadaan klinik ini. Padahal pelayanannya sangat bagus," pujinya. (fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Inspirasi