Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Hasil Evaluasi: PTM Jalan Terus, Mungkin Menunggu Zona Merah

miminradar-Radar Banjarmasin • 2021-07-19 15:15:27
KEMBALI SEKOLAH: Sejak memasuki halaman sekolah, para guru sudah mengawasi anak didiknya untuk senantiasa menjaga jarak. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
KEMBALI SEKOLAH: Sejak memasuki halaman sekolah, para guru sudah mengawasi anak didiknya untuk senantiasa menjaga jarak. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bagi Dinas Pendidikan Banjarmasin, jumlah guru dan siswa yang positif itu teramat sedikit. Hanya nol koma nol persen.

---

BANJARMASIN – Sepekan berjalan, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Banjarmasin dievaluasi. Bisa ditebak, muncul penularan di sekolah.

Di jenjang SD, tiga siswa dan satu guru positif terinfeksi COVID-19. Ditambah satu guru dan satu siswa di jenjang SMP.

Alih-alih menghentikan, Disdik kukuh melanjutkan PTM. Alasannya, jumlahnya belum gawat.

Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto menyebutkan, jumlah kasus positif untuk murid SD hanya 0,01 persen (tiga kasus dari 28.546 siswa) dan 0,05 persen untuk guru (satu kasus dari 1.775 pengajar).

Sementara untuk murid SMP hanya 0,007 persen (satu kasus dari 13.594 siswa) dan guru hanya 0,1 persen (satu kasus dari 914 pengajar).

Ditegaskannya pula, dari hasil penelusuran, mereka diketahui tertular saat berada di luar sekolah.

“Jadi tidak terbukti adanya klaster sekolah. Karena mereka terinfeksi dari klaster keluarga,” ujarnya lewat sambungan telepon kemarin (18/7).

Disebut kecil pun, ketika ditanya berapa penambahan dan di mana saja sekolah yang PTM-nya ditunda, Totok terdengar enggan.

“Sepertinya ada perkembangan, karena zona oranye juga meluas. Jumlah zonanya sudah 23 rukun tetangga,” sebutnya.

“Tak perlu dibuka, nanti ribut. Yang jelas ada. Semuanya dari klaster keluarga,” tambahnya.

Perihal testing massal di sekolah, minimal dengan tes antigen, Totok menjawab tak mungkin.

Ia hanya meminta sekolah mendisiplinkan protokol kesehatan. Lalu, menyatakan guru yang diizinkan mengajar adalah yang sudah divaksin.

Kalau ada penyakit bawaan dan vaksinnya ditunda, sekurang-kurangnya mengantongi surat keterangan negatif covid.

“Karena guru yang terpapar covid kemarin belum divaksin,” tambahnya.

Totok kembali menyitir hasil survei Disdik. Dari orang tua siswa SD, 84,42 persen menyatakan mendukung PTM. Lebih antusias lagi dari orang tua SMP, di mana 95,53 persen mendukung.

“Sekali lagi sekolah harus memperkuat prokes dengan pengawasan satgasnya masing-masing,” tutupnya.

Salah satu pendukung PTM adalah Yuliana. Orang tua siswa ini mengaku khawatir dengan penularan corona. Tapi ia lebih khawatir ketika melihat anaknya kecanduan bermain gawai selama belajar di rumah.

“Kalau terus di rumah, main smartphone melulu. Jadi lebih baik ke sekolah,” ujarnya.

Lulus dari taman kanak-kanak dan mendaftar ke SDN Mawar 2, sebelum bertemu teman-teman sekelasnya, keburu pandemi.

Maka ia turut berbahagia ketika melihat anaknya akhirnya mengenal teman-teman sekelasnya.

Senada dengan Riri Firman. Anaknya terdaftar di SDN Pengambangan 5. Gara-gara terlalu lama belajar daring, ia melihat anaknya kesulitan bersosialisasi. “Saya setuju dengan PTM, tapi wajib prokes ketat,” tegasnya.

Pemetaan Zonasi Absurd

ANGGOTA Tim Pakar COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin menyebut pemetaan zona aman dan berisiko yang diterapkan oleh Pemko Banjarmasin sebagai hal yang absurd.

Zona hijau, kuning, oranye dan merah diterapkan pada kelurahan. Bahkan wilayah yang terkecil seperti rukun tetangga.

Pertama, lantaran tidak ada publikasi zona di Banjarmasin yang bisa diakses publik. Warga dibiarkan meraba-raba, apakah di tempatnya sudah gawat atau masih aman.

Kedua, indikator yang digunakan untuk penerapan zonasi juga tidak diketahui publik.

"Ketiga, katakan sebuah kelurahan berada di zona hijau, maka bagaimana mereka menjamin kelurahan tersebut aman? Karena tidak ada pengaturan mobilitas penduduk,” cecarnya.

Maka ia berharap wali kota menganulir keputusan melanjutkan PTM. Karena guru, staf sekolah dan murid dihadapkan pada risiko tinggi.

“Penundaan PTM menjadi penting karena penularan sedang tinggi-tingginya,” tegasnya.

Mengacu data Dinas Kesehatan Kalsel, antara tanggal 12 sampai 17 Juli, ada 717 kasus terkonfirmasi positif di Kalsel. Kasus aktif pun melonjak menjadi 913 orang.

Pekan sebelumnya, tingkat positivitas di Banjarmasin sudah sebesar 31 persen. Sekarang sudah 36 persen. Maksudnya, jika seratus orang dites, 36 sampel akan menyatakan hasil positif.

“Padahal, standar kesehatan maksimal 5 persen,” tukasnya.

"Jadi, kegiatan apapun yang menyebabkan mobilitas penduduk serta mengumpulkan orang, harus dihentikan sementara waktu. Termasuk PTM," sarannya.

Selain itu, Muttaqin mengkhawatirkan kerumunan yang dibiarkan di mana-mana. Jika terus begini, Banjarmasin mungkin saja akan meniru Balikpapan.

"Di sana, dalam enam hari terakhir ada 2.976 kasus positif dan 130 kasus kematian. Kita harus mencegah itu terjadi," tuntasnya. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Pendidikan