Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Di Balik Seremoni Bantuan Isoman: Dibiarkan Berjuang Sendiri-Sendiri

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 7 Agustus 2021 - 16:59 WIB
SAPA WARGA: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menyapa warga Banua Anyar, kemarin (6/8). Senin (9/8) depan, bantuan untuk warga isoman mulai disalurkan BPBD. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
SAPA WARGA: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menyapa warga Banua Anyar, kemarin (6/8). Senin (9/8) depan, bantuan untuk warga isoman mulai disalurkan BPBD. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Pemko Banjarmasin membiarkan warganya berjuang sendirian saat menjalani isolasi mandiri.

***

BANJARMASIN - Ini cerita di balik penyerahan bantuan sembako untuk warga isoman di Jalan 9 November, Banjarmasin Timur pada Jumat (6/8) sore. Secara simbolis, bantuan diserahkan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina dan Ketua TP PKK Banjarmasin, Siti Wasilah.

Dua rumah yang dihuni warga isoman di RT 12 dan 13 Kelurahan Banua Anyar kebagian bantuan.

Total, disiapkan dua ribu paket bantuan yang akan disebar ke semua kecamatan.

Wasilah menjelaskan, bantuan itu produk UMKM yang terdampak pandemi dan dibeli PKK. “Nama programnya PKK Peduli Warga Isoman,” ujarnya.

Radar Banjarmasin kemudian berbincang dengan Mariani, anak dari warga yang sedang menjalani isoman.
Perempuan 38 tahun itu memantau sendiri kondisi ibunya, Nor Hasanah.

“Ibu tinggal berdua sama bapak. Kontak erat dari bapak yang sekarang dirawat di Rumah Sakit Ansari Saleh. Sudah 19 hari beliau dirawat di fasilitas covid,” tuturnya.

Menurutnya, puskesmas setempat cukup cekatan dalam menangani ayahnya. Persoalannya, setelah itu tak ada pelacakan terhadap kontak erat.

Beruntung, keluarganya terbilang sadar prokes. Mariani sendiri yang meminta ibunya untuk isoman.

“Saya sendiri yang melapor ke puskesmas bahwa ibu sedang isoman di rumah,” kisahnya.

Namun, apa yang didapat? Alih-alih dibantu vitamin atau obat, tak sekalipun orang puskesmas atau aparat kelurahan memantau kesehatan ibunya.

“Saya hanya diberikan nomor kontak ambulans,” tambahnya.

Mariani pula yang bolak-balik mengantarkan makanan dan membelikan vitamin. “Alhamdulilah, ibu sehat, tak ada keluhan (gejala),” tambahnya.

Senada dengan sumber Radar Banjarmasin yang tinggal di Jalan Tembus Perumnas, Banjarmasin Utara.
Pria berinisial MS itu mengaku hanya rutin chatting via WhatsApp dengan puskesmas selama isoman. Itu pun, dirinya yang harus aktif bertanya.

“Saya lupa, apakah sampai hari ke-9 atau 10. Setelah itu, tak ada lagi mereka nge-chat,” ujarnya. “Karena obat tak diantarkan, saya sendiri yang mengurus ke puskesmas,” lanjutnya.

Disinggung soal masalah ini, jawaban Ibnu lebih berkutat pada perkara teknis. Menurutnya, ada aplikasi layanan yang bisa digunakan warga. Seperti Silacak dan Inarisk.

Lalu, sudah ada empat pilar yang bisa diandalkan. Yakni kelurahan, babinsa, bhabinkamtibmas dan puskesmas.
"Mereka yang mendata. Nanti bisa dikonfirmasi. Sudah diawasi atau belum," ujar Ibnu.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi membenarkan pengawasan warga isoman hanya lewat telemedicine.

“Kami keterbatasan tenaga medis. Ada hampir 200 petugas puskesmas yang terpapar covid. Kami harap bisa dimaklumi,” ujarnya.

Perihal perekutan 104 tenaga surveilans untuk melacak kasus, mulai Senin (9/8) depan akan ditempatkan di kelurahan-kelurahan.

Barat Lebih Dulu

Seusai penyerahan simbolis, bantuan untuk warga isoman akan disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai pekan depan secara bertahap.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Edy Wibowo menjanjikan, bantuan akan tiba pada Senin (9/8) depan.

“Pertama kami bagikan ke Kecamatan Banjarmasin Barat,” ujarnya melalui sambungan telepon.

“Tapi kami siapkan seribu paket. Anggarannya diambil dari belanja tak terduga (BTT),” jelasnya.

Paket bantuan berisi 10 kilogram beras, mi instan dan vitamin. Jika ditotal, nilainya Rp150 ribu per paket.

Catat 1.162 Pelanggaran Prokes

SELAMA masa PPKM level 4 di Banjarmasin, Satpol PP mencatat 1.162 pelanggaran protokol kesehatan (prokes). Data itu dihimpun sejak 26 Juli hingga 5 Agustus.

Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin menyatakan, pelanggaran sebanyak itu membuktikan rendahnya kedisiplinan masyarakat.

“Secara umum merata di lima kecamatan," ujarnya kemarin (6/8) siang di Balai Kota.

Dirincikannya, sebanyak 456 pelanggar mendapat teguran lisan. Kemudian sebanyak 515 pelanggar diberikan teguran tertulis. Lalu sebanyak 182 pelanggar dijatuhi sanksi sosial dan sembilan pelanggar dikenai denda.

"Untuk denda, dalam perwali disebutkan angka maksimal Rp100 ribu. Artinya, kurang dari nominal itu boleh," jelasnya.

Ia berharap, lewat operasi yustisi yang masif ini, masyarakat semakin patuh.

Khusus untuk kafe yang buka melewati batasan jam 8 malam, Muzaiyin membenarkan ada beberapa kafe yang disambangi dan ditindak.

“Jumlahnya berapa, datanya belum masuk. Tapi ada, kami berikan teguran tertulis,” jelasnya.

Namun, Satpol PP sebenarnya memberikan kelonggaran. “Sebenarnya, kalau mereka (restoran, kafe, warung dan kaki lima) ingin buka sampai jam berapa pun tak ada masalah. Asalkan hanya melayani pembelian bungkusan,” tegasnya.

Jadi sanksi diberikan bukan lantaran melabrak jam malam. Melainkan karena membiarkan pelanggan makan dan minum di tempat. (war/fud/ema)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Banua Covid-19 Corona