Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mendaki Halau Halau, Atap Tertinggi Kalsel: Ajak Pendaki Asing

izak-Indra Zakaria • 2022-06-11 13:12:24
DI PUNCAK: Bupati HST Aulia Oktafi andi di Gunung Halau Halau, Meratus. Ekspedisi ini digelar awal Juni.
DI PUNCAK: Bupati HST Aulia Oktafi andi di Gunung Halau Halau, Meratus. Ekspedisi ini digelar awal Juni.

“Saya sampai kram. Pertama kaki kiri, kemudian berganti ke sebelah kanan. Padahal baru mulai mendaki,” ujarnya.

JAMALUDDIN, Barabai

Cerita itu disampaikan Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Muhammad Yani. Saat penulis mengulik kisah perjalanan menuju puncak Halau Halau. Jumat, 3 Juni, rombongan Pemkab HST menggelar ekspedisi. Niatnya, mempromosikan pariwisata lokal.

Bupati HST Aulia Oktafiandi mengajak turis Amerika Serikat, Swiss dan Kanada yang tergabung dalam Yayasan Bumi Kita Fantastik untuk mendaki. “Kami yang mendatangkan mereka. Transportasi kami tanggung. Peralatan dan lainnya mereka sediakan sendiri,” kata Yani di rumah dinasnya (9/6).

“Kita mendatangkan mereka, transportasi kita tanggung. Untuk yang lain-lain mereka sendiri,” kata Muhammad Yani.
Pendakian dimulai dari Balai Adat Kiyu Desa Hinas Kiri Kecamatan Batang Alai Timur. Desa ini berjarak 25 kilometer dari pusat Barabai.

Berjalan kaki mulai jam 9 pagi, tujuannya ke puncak Tiranggang. Butuh 4 jam 30 menit untuk mencapai pos satu tersebut. Meski menanjak, jalan ini sebenarnya bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tapi karena ada yang longsor, maka harus berjalan kaki.

Yani menjamin, tim dari Dinas Pekerjaan Umum sudah menyurvei kondisinya. “Akan dibenahi. Karena ini jalan segitiga emas. Arah ke Juhu, ke Halau Halau dan Hinas Kiri,” jelasnya. Dijerang matahari yang terik, rombongan akhirnya tiba di pos satu. Beristirahat selama setengah jam, lalu kembali mendaki menuju pos dua, Sungai Karuh.

“Airnya memang keruh. Di sana juga ada Air Terjun Gus Dur. Jaraknya 100 meter dari shelter,” lanjutnya. Perjalanan panjang dimulai. Jarak tempuhnya 3,95 kilometer. Medannya juga menanjak dan menurun. Melewati hutan belantara dan anak sungai.

Tiba menjelang magrib, di sini bupati dan rombongan mendirikan tenda. Menginap satu malam untuk memulihkan tenaga.
Memasuki hari kedua, Sabtu 4 Juni, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat menuju pos tiga, Jumantir. Jaraknya cuma 1,1 kilometer, tapi medannya sangat ekstrem. Menanjak dengan kemiringan 60 derajat. Memutar pegunungan. “Perlu dua jam,” sebutnya.

Berikutnya adalah pos empat, Penyaungan. Kali ini ujiannya adalah suhu dingin. Berjarak 4,7 kilometer dengan suhu 19 derajat celcius. Tiba di sana, karena puncaknya sempit, rombongan dipecah dua. Tim pertama yang dipimpin bupati berangkat lebih awal jam 3 petang. Sedangkan tim kedua yang dipimpin sekda berangkat jam 6 sore.

“Selama perjalanan, saya mengamati alam sekitar. Masyarakat sangat menjaga hutannya. Meski ada anggrek sejengkal dari tanah, takkan ada yang memungut dan membawanya pulang,” ujarnya. Tantangannya sekarang adalah burung dan kumbang. Jumlahnya terus berkurang karena laku dijual. “Buruk cucak dan tinjau banyak yang memburu,” ungkapnya.

Dia berharap pemkab bisa membudidayakannya. “Jadi nanti yang dijual hasil budidaya, bukan dari alam liar,” tegasnya. Di puncak, menghadapi suhu 15 derajat celcius, tangan Yani sempat membeku. Tapi dia masih bisa memotret.
“Sampai buang air di dalam botol karena kedinginan kalau keluar tenda,” ujarnya. “Maklum, pendaki veteran. Saya terakhir mendaki sekitar 2004,” tambah pria 56 tahun itu.

Di puncak Halau Halau, rombongan menginap. Tentu ada agenda. Bupati meneken prasasti yang menetapkan Halau Halau sebagai atap tertinggi Kalsel dengan ketinggian 1.901 mdpl. Menyandang The Green Belt of Borneo, gelar dari pemkab dan Megalitikum Institute.

Kalau alam Meratus terus dijaga, Yani yakin, Halau Halau bisa menjadi destinasi wisata kelas dunia. Bupati menambahkan, fasilitas penunjang pariwisata, seperti pos-pos di jalur pendakian akan dibenahi. “Saya mengundang wisatawan, domestik dan mancanegara untuk datang ke puncak Halau Halau,” kata Aulia. “Mudah-mudahan bisa memberdayakan masyarakat sekitar,” sambung kepala daerah berumur 38 tahun itu. Rombongan kemudian turun gunung pada hari ketiga. (gr/fud)

 

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria