KABUT : Kawasan Pengayuan, Liang Anggang tertutup kanut asap akibat karhutla pada 16 Agustus lalu | FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN
Ini perlu jadi perhatian masyarakat. Kualitas udara di Kota Banjarbaru menurun akhir-akhir ini, hingga masuk kategori tidak sehat.
Hal itu terlihat dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Banjarbaru di RTH Masjid Al-Munawarah, Jalan Trikora pada Minggu (27/8) malam. Peralatan Air Quality Monitoring System AQMS di lokasi itu menunjukkan, ISPU di Kota Idaman berada di angka 107. Artinya kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Indeks pencemaran maksimum sendiri dari 0 hingga 500. Jika indeks 0-50, maka udara dianggap baik. Sedangkan, 51-100 berarti sedang. Namun, apabila masuk level 100-200 maka kualitas udara tidak sehat. Kemudian, 200-299 udara berkategori sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya.
Tidak sehatnya kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Kalsel ini dibenarkan Kabid Penegakan Hukum dan Pengendalian Lingkungan (PHPL) pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarbaru, Shanty Eka Septiani.
Kendati demikian, kondisi tersebut menurutnya sudah mengalami penurunan, tidak seperti Sabtu (26/8) tadi. Pada hari itu konsentrasi parameter PM2,5 berada di angka 126, dan HC di angka 108.
Dijelaskan Shanty, material yang terkandung dalam PM2,5 ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kanker paru- paru, kardiovaskular, kematian dini, dan penyakit paru-paru obstruktif kronis.
“PM2,5 dan HC ini memang sangat berdampak untuk kesehatan manusia, ditandai kondisi di lapangan adalah kabut asap,” ucapnya.
Sehingga ia tidak menampik, penurunan kualitas udara ini merupakan efek dari Karhutla yang sedang marak terjadi di Banjarbaru. “Iya salah satunya itu,” katanya.
Hal tersebut diperparah dengan naiknya mobilitas transportasi yang menyebabkan polusi udara di kota ini bertambah buruk.
Meski demikian, Shanty menekankan parameter ISPU ini tidak menggambarkan kondisi udara Banjarbaru secara menyeluruh.
Bukan tidak mungkin, udara di wilayah terjadi Karhutla seperti Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang kualitas udaranya masuk dalam kategori merah, alias sangat tidak sehat.
“Secara kasat mata seperti itu. Kalau di tengah kota saja sudah kuning, kemungkinan di TKP Karhutla lebih parah,” ujarnya.
Karena itu, ia mengimbau agar warga tetap mengenakan masker ketika ingin beraktivitas. Serta mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika cuaca sedang dalam kondisi kabut asap.(zkr/yn/ris)