Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Prabowo Diprediksi Tak Lagi Dominan di Banua, Pengamat: Di Kalsel Pilih Figur, Bukan Fanatik Parpol

izak-Indra Zakaria • Kamis, 26 Oktober 2023 - 21:41 WIB
MENDAFTAR: Pasangan Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Gibran Rakabuming Raka ke KPU RI, kemarin siang. | FOTO: ADEK BERR/AFP
MENDAFTAR: Pasangan Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Gibran Rakabuming Raka ke KPU RI, kemarin siang. | FOTO: ADEK BERR/AFP

Prabowo Subianto resmi berpasangan dengan putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Raka Buming Raka sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Gibran yang notabene sebagai kader PDI Perjuangan, ternyata diusung oleh partai berbeda. Tentu saja itu membuat simpatisan partai berlambang banteng moncong putih menjadi gamang. Apakah mereka akan memilih usungan PDI Perjuangan yakni Ganjar Pranowo-Mahfud Amin, atau malah akan mendukung Prabowo-Gibran?

Pengamat politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mohammad Effendi menganalisis suara PDI Perjuangan untuk pilpres diprediksi bakal terganggu. Terlebih pemilih di Kalsel lebih dominan memilih figur, bukan partai politik yang mengusung.

“Sedikit banyak akan berpengaruh. Simpatisan tentu akan bimbang,” kata Effendi, (25/10). 

Malah hadirnya tiga pasang calon, sebutnya, semakin membuat suara akan terbagi-bagi. Mantan Komisioner KPU Kalsel itu membandingkan dengan Pilpres 2019 lalu, hanya ada dua calon. Pemilih tentu tak ada punya alternatif opsi, selain pasangan yang ada.

Berbeda dengan saat ini, dengan tiga pasang calon, maka pemilih pun akan ada pilihan lain di antara dua calon lain. “Ini yang akan membuat suara pemilih nanti semakin berpeluang terbagi-bagi,” sebutnya.

Tak hanya suara dari simpatisan PDI Perjuangan yang diprediksi bakal terdampak akibat Gibran maju berpasangan dengan Prabowo. Tapi, suara Prabowo yang menang dengan signifikan pada pilpres lima tahun lalu, juga bakal ikut terdampak dengan hadirnya calon lain, Anies-Muhaimin.

“Bisa saja saat pilpres lalu, pemilih tak ada pilihan lain. Sekarang dengan tiga calon, tak menutup kemungkinan memilih calon yang lain, dan akan berdampak pada menurunnya suara Prabowo,” ulasnya.

Kuatnya kultur agama di Kalsel, menambah suara pada pilpres kali ini semakin berpeluang terbagi-bagi. Munculnya nama Mahfud MD dan Muhaimin dari kader Nahdlatul Ulama (NU) sebagai cawapres, membuat hasil pilpres di Kalsel semakin ketat.

“Sekali lagi, karena kali ini tidak head to head seperti dulu. Ditambah warna lain yakni kultur organisasi agama, maka suara di Kalsel nanti bakal ketat,” paparnya.

Pengamat politik FISIP ULM, Mahyuni juga punya analisis yang sama. Ia memperkirakan suara PDI Perjuangan akan pecah. Ada figur Gibran yang berpasangan dengan Prabowo.

“Di Kalsel tak seperti di Pulau Jawa yang mana simpatisan mereka sangat kuat terhadap partai. Di Kalsel lebih memilih figur,” bandingnya.

Mahyuni menganalisis pemilih yang memilih Jokowi pada pilpres lalu karena figur, bisa saja memilih Gibran. Namun pemilih Prabowo lalu, juga tak serta merta bakal memilihnya.

“Di pilpres kali ini ada tiga pasangan calon. Bisa saja dulu yang memilih Prabowo karena tak ada pilihan lain, mengalihkan pilihannya ke calon lain,” sebut mantan Ketua Bawaslu Kalsel itu.

Dari analisisnya, Mahyuni yakin suara Prabowo di Kalsel tak dominan seperti pilpres lima tahun lalu. “Apalagi akan ada perebutan suara dari warga NU yang dua kadernya maju sebagai cawapres,” ingatnya.(mof/gr/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria