Umat Kristiani di Kalsel terus mengalami perkembangan. Kemenag Kalsel mencatat tahun 2021 lalu, jumlahnya sebanyak 55.005. Sedangkan tahun 2022, naik menjadi 55.978. “Tahun 2020 lalu, mengacu data Disdukcapil, jumlahnya sebanyak 54.382,” sebut Plt Pembimas Kristen Kemenag Kalsel, Deys Meithalia.
Dari 13 kabupaten/kota, Kota Banjarmasin dan Banjarbaru serta Kabupaten Kotabaru tercatat paling tinggi umatnya. Tahun 2022 tadi contohnya, di Banjarmasin mencapai 13.651 orang, di Kotabaru sebanyak 11.125 orang, dan di Banjarbaru sebanyak 7.977 orang. “Yang terendah tercatat di Hulu Sungai Utara, jumlahnya 80 orang,” terangnya.
Di Tanah Bumbu, dalam lima tahun terakhir, terjadi fluktuasi jumlah penganut agama Kristen dan Katolik. Pada tahun 2018, penganut Kristen mencapai 4.393, sedangkan Katolik sebanyak 3.013 penduduk. Namun, pada tahun 2019, jumlah penganut Kristen mengalami penurunan signifikan menjadi 3.830, sementara Katolik turun menjadi 1.921.
Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tanah Bumbu, Abdul Rasyid penurunan ini disebabkan kontrak kerja berakhir hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan-perusahaan sawit di Kabupaten Tanah Bumbu. “Kebanyakan umat Kristiani di Tanah Bumbu bekerja di perusahaan sawit. Bukan penduduk asli. Jadi, ketika terjadi PHK, mereka terpaksa pulang ke kampung halaman,” ujarnya.
Ia tidak merinci lebih lanjut faktor pemutusan hubungan kerja tersebut. Namun, penelusuran Radar Banjarmasin pada 2019, PHK di industri sawit nasional memang meningkat akibat fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO), penurunan ekspor, dan kampanye negatif terhadap sawit.
Terlebih pada 2018, Parlemen Uni Eropa (UE) merilis RED II yang mengusulkan penghentian konsumsi biodiesel berbasis sawit dari Indonesia. Akibatnya, industri hulu sawit yang padat karya menghadapi ancaman PHK karena dampak tidak langsung dari pelemahan tersebut. “Umat Kristiani yang berkerja di tambang batu bara ada juga. Tapi, sedikit dan tidak signifikan,” bandingnya.
Perkembangan umat Nasrani di Kabupaten Tabalong terus meningkat sepanjang tahun. Kemenag Tabalong mencatat jumlah mereka kini 3.880 orang. Jumlah itu terbagi dalam dua. Katolik 2.265 jiwa, dan Kristen Protestan sebanyak 1.624 jiwa. "Memang setiap pendataan, jumlahnya selalu ada kenaikan," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kemenag Tabalong, H Abdul Khairi, Minggu (24/12).
Perpindahan penduduk atau hadirnya pendatang masuk ke Tabalong menjadi alasan utamanya. Mereka memutuskan menetap. Sedangkan warga asli yang jadi umat Nasrani berasal dari Suku Dayak. Kini di Tabalong berdiri sebanyak 37 gereja.
Berdasarkan data Kemenag Kabupaten HSS, perkembangan jumlah umat Kristiani di Bumi Rakat Mufakat ada penambahan pada tahun 2021 dan 2022. Tahun 2021, sebanyak 1.425 orang. Sedangkan 2022, sebanyak 1.554 orang.
Di Hulu Sungai Selatan, Pendeta Mastiur Tambunan membenarkan ada penambahan umat Kristiani khususnya di wilayah Resort GKE Loksado. Di Loksado ada 93 kepala keluarga (KK), Tatayan 45 KK, Muara Ulang 35 KK, dan Kamawakan 14 KK. “Penambahan ini baik dari hubungan keluarga atau pendatang yang bekerja ke Kabupaten HSS,” ujarnya.
Ketua Majelis Resort GKE HST, Pendeta Rusman Nusa Bakti mengaku masih mendata jumlah jemaat di wilayahnya. "Perkiraan kurang lebih 100 jemaat. Untuk jumlah jiwa yang ada di desa sebanyak 200-an lebih," bebernya.
Mengacu data Dinas Kependudukan Kalsel tahun 2018, jumlah pemeluk agama Kristen di HST sebanyak 893 orang, dan untuk Katolik 27 orang. Kemudian data terakhir pada tahun 2021, pemeluk agama Kristen di HST bertambah menjadi 914 orang, dan untuk Katolik 40 orang. Di Kabupaten Tapin, total gereja GKE ada 8. Sedangkan dari denominasi lain ada 9 gereja.
“Sementara untuk jumlah umat Kristiani di Tapin, khususnya untuk GKE ada 825 jiwa, dan kurang lebih 500 jiwa untuk denominasi lain,” banding Pendeta GKE Pualam Sari Kecamatan Binuang, Ranu Wijayanto. Di Balangan, Ketua MPH Jemaat GKE Halong, Pendeta Dama Yanto mengatakan sebaran umat Kristiani tidak terlalu signifikan. Tapi, jumlah sekte lumayan menjamur. "Hampir di setiap kecamatan ada. Di Paringin, Halong, Awayan, Tebing Tinggi," paparnya.
Sementara di Paringin, pendeta Yanto mengatakan kebanyakan umat Kristen di sana merupakan pendatang dari luar Kalimantan. "Biasanya pendatang dari luar yang bekerja sesuai profesi masing-masing. Ada yang bekerja di perusahaan, PNS, dan lain-lain," jelasnya.
Pendeta di Gereja Katolik St Theresia Pelaihari, Warlam mengungkapkan jemaat yang hadir untuk Natal sekitar 800 orang. “Rencananya Pak Pj Bupati beserta rombongan juga hadir untuk melihat pelaksanaan secara langsung,” tandasnya. (*)