"Dalam rapat Banggar, kami sudah pernah meminta data ke SKPD, apa saja kegiatan setiap tahunnya. Namun sampai kini tidak pernah dikasih," keluh anggota Komisi III itu.
Hendra tak menentang rencana pemko. Ia setuju, monumen itu bisa menjadi pengingat bahwa Banjarmasin adalah kota yang toleran dan damai.
Agar kerusuhan etnis di Sampit yang hampir terjadi di Banjarmasin beberapa tahun lalu menjadi pelajaran bersama.
"Tapi tolong sambil dipikirkan matang-matang," tukas kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Mengingat kondisi keuangan daerah yang sedang tidak baik-baik saja. Banyak tunggakan proyek yang belum dilunasi.
Maka ia menyarankan kepada pemko untuk tidak terlalu memaksakan diri. Prioritaskan urusan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan. "Penuhi standar pelayanan minimal dulu," pintanya.
Dan ketika kas daerah sudah normal, maka rencana pembangunan monumen perdamaian itu boleh kembali dibicarakan.
"Saat kaki-kaki pondasi keuangan daerah sudah cukup kuat untuk berdiri, maka silakan melanjutkan aktivitas pembangunan lainnya," pungkas Hendra. Terpisah, Wakil Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin, Afrizaldi mengingatkan pemko untuk tidak ngotot membangun monumen itu.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini bahkan mengancam untuk memangkas anggaran DLH pada pembahasan anggaran mendatang.
"Jangan sembarangan memakai anggaran, kalau mereka tidak mengindahkan, kami tunggu di rapat pembahasan anggaran berikutnya. Kami akan pangkas anggaran DLH," ujarnya. Menurutnya, akan lebih baik bila DLH fokus pada penanganan sampah yang menjadi masalah utama di Banjarmasin saat ini.
"Buat apa mengurusi monumen. Mending urusin masalah sampah yang belum beres sampai sekarang," cecar Afrizaldi. Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengaku sedang mencari-cari lokasi yang pas untuk pendirian monumen perdamaian itu. Proyek monumen itu beriringan dengan penataan Taman Kamboja. Namun, Ibnu mengakui rencana itu tidak akan terwujud dalam waktu dekat. "Semua akan ditinjau ulang, mana yang diprioritaskan. Mengingat DLH juga terdampak refocusing. Anggaran yang digeser mencapai Rp35 miliar," sebut Ibnu. (*)