Tahulah Pian, Seperti Ini Nasib Jugun Ianfu di Masa Penjajahan Jepang di Kalsel
M Oscar Fraby• 2024-04-12 13:25:00
TENTARA JEPANG: Tentara Jepang saat itu di Lapangan Merdeka (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin) Banjarmasin.
Pada tahun 1942-1945 merupakan masa penjajahan Jepang di Indonesia. Meski masanya terbilang pendek, penjajahan Jepang telah menyisakan kepedihan yang luar bisa bagi bangsa Indonesia. Tidak terkecuali bagi korban budak seks (Jugun Ianfu).
Termasuk di Banjarmasin, para Jugun Ianfu menderita saat mereka di sekap tentara pendudukan Jepang di Banjarmasin, Borneo Selatan.
Sejarawan FKIP ULM, Mansyur menceritakan kedatangan bala tentara Jepang tiba di Banjarmasin melalui dua jalan. Pertama, bala tentara yang berjalan kaki dari utara. Yakni pasukan Angkatan Darat (Rikugun) yang berasal dari Balikpapan terus berjalan kaki, naik perahu, bersepeda. Ada yang naik kuda menembus rute Muara Uya, Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, dan seterusnya mereka sampai di Banjarmasin pada tanggal 13 Februari 1942 silam.
Pasukan kedua melalui jalan laut dan mendarat di Jorong. Pasukan ini dari kesatuan Angkatan Laut (Kaigun) yang tiba di Pelaihari tanggal 13 Februari 1942, dan terus ke Banjarmasin. Pascatiba di Banjarmasin, mulailah Jepang mendatangkan beberapa perempuan-perempuan muda atau perawan. Umumnya berusia belasan tahun dari Jawa.
Sebagian mereka dipekerjakan di Rumah Sakit Umum Ulin. “Mereka biasa dipanggil mina-san. Sebagian lagi ditempatkan di sebuah asrama yang kini menjadi lokasi Pasar Telawang (dulu di ujung jalan Residen de Haanweg),” tutur Mansyur.
Asrama ini dulunya bernama Ian Jo. Mansyur mengatakan, mereka disekap sebagai budak seks atau Jugun Ianfu. Perempuan-perempuan itu ditempatkan dalam bilik-bilik terpisah. Masing-masing berukuran 3×2,5 meter. Di masing-masing bilik tersedia segala perabotan seperti ranjang, kelambu, selimut, meja, dan dua kursi. Ada juga gantungan baju.
Di sudut kamar terdapat sebuah ruangan kecil yang hanya dibatasi kain. Mereka dibekali cairan pembersih kelamin dalam enam botol untuk mencegah mereka terjangkit penyakit sipilis. “Dari beberapa sumber, para perempuan ini berangkat ke Borneo ikut kelompok sandiwara keliling Pantja Soerja. Ternyata mereka ditipu,” terang Mansyur.
Para Jugun Ianfu itu harus siap melayani hasrat seks para tamu. Selain untuk melayani militer Jepang, sebagian perempuan itu sengaja didatangkan untuk melayani pejabat tertinggi Jepang di Banjarmasin. “Misalnya untuk Borneo Meisinbu, Kepala Kempeitai, Kepala Bank Tokyo, untuk direktur-direktur perusahaan besar,” paparnya.
Para tamu yang datang ke asrama Telawang harus terlebih dulu membeli karcis, seperti membeli karcis bioskop. Ada perbedaan harga bagi kalangan serdadu dan perwira Jepang. Siang hari, untuk pangkat serdadu, harus membayar 2,5 yen. Sementara pukul 17.00-24.00, harus membayar 3,5 yen.
Sedangkan pukul 24.00 sampai pagi untuk pangkat perwira, membayar 12,5 yen. “Setiap karcis disertai satu kaputjes (kondom),” jelasnya.
Yang menarik, kaputjes atau kondom yang digunakan merupakan buatan lokal. Diproduksi atas perintah militer Jepang. Kaputjes dari karet itu diproduksi sebanyak 3.000 sehari yang pembuatannya dilakukan oleh Lamberi Bustani atas pengawasan Jepang di pabrik Nomura milik Hitaki di Teluk Tiram, Banjarmasin.
Melayani nafsu durjana militer Jepang, para Jugun Ianfu tak berdaya. Berontak atau menolak melayani berarti celaka. Siap-siap teraniaya, atau dibunuh. Memang, dalam satu bulan, para Jugun Ianfu di Ian Jo Telawang diliburkan dua hari. Tiap tanggal 8 dan 20. Namun, upaya melarikan mustahil, karena alat transportasi dan komunikasi tidak semudah sekarang. “Meminta pertolongan warga pribumi juga tidak mungkin, karena warga takut mendekati para Jugun Ianfu. Sanksi penyiksaan dan kurungan enam bulan, telah menanti bagi yang nekat,” paparnya.
Selain Jugun Ianfu, serdadu Jepang juga berkeliaran mencari perempuan-perempuan lacur atau memaksa perempuan-perempuan yang bersuami untuk melepaskan nafsu dengan ancaman bayonet.
Kalau hal ini diketahui Kempeitai, serdadu-serdadu Jepang itu pasti dihukum berat, karena dilarang mengganggu penduduk bangsa Indonesia.
Waktu itu di Banjarmasin memang terdapat beberapa lokasi pelacuran. Seperti di Kampung Kertak Baru, Kerkhoflaan, Belakang Boom, dan Straat Belakang (Kampung Gedang-Kebon Sayur).
Ketika tentara Jepang berada di Banjarmasin, maka untuk sementara waktu militer Jepang menyalurkan hasrat seks mereka di lokasi pelacuran tersebut.
Ketika tentara Jepang membangun asrama (Ian Jo) untuk budak seks (Jugun Ianfu) di ujung Residen de Haanweg yang kini pasar Simpang Telawang, maka kampung-kampung yang sudah ditentukan itu dihapuskan.
Tentara Jepang meminta kampung atau lokasi pelacuran itu ditutup, dan kepada penduduk setempat diminta pula memberikan anjuran atau nasihat kepada perempuan lacur agar menjauhi kampung tersebut atau mendatangi tempat baru yang sudah sudah ditentukan, atau disediakan tentara Jepang yakni ujung Residen de Haanweg.