Namun, Ma'rum menuturkan video kegiatan lomba burung tersebut kemudian dikolase dengan beberapa video tentang fenomena maraknya fenomena mabuk kecubung. Sehingga, terjadi misinterpretasi di masyarakat terhadap video tersebut, karena orang dalam video viral tersebut diduga mabuk mengkonsumsi kecubung, zenith atau narkoba. Padahal ini tidak benar.
"Tidak benar adanya kegiatan seperti mabuk-mabukan obat-obatan atau kecubung, itu ulah oknum yang tak bertanggung jawab mengkolase video," sebut Ma'rum.
Di Medsos, beberapa video memperlihatkan seorang dalam kondisi linglung dan halusinasi yang diduga dalam kondisi mabuk kecubung. "Nah, postingan video viral di medsos, dimasukan potongan video suasana lomba burung berkicau yang memperlihatkan aktivitas para peserta," sambungnya.
"itu benar, yang ada di cuplikan video tersebut memang peserta lomba burung berkicau, tetapi bukan dalam keadaan mabuk kecubung atau sejenisnya, sehingga terlihat seperti yang diasumsikan netizen," jelas Ma'rum. Dijelaskan Ma'rum dalam lomba tersebut mempertandingkan sebanyak 35 Race, disela-sela race panitia mengadakan lomba kepada peserta menirukan suara dan gerak burung murai borneo yang sedang dipertandingkan.
Jadi masing-masing mereka memperlihatkan gaya-gayanya macam-macam, seperti burung yang sedang berkicau. "Tujuannya ada lomba menirukan gaya burung itu untuk mencairkan suasana dan menghilangkan ketegangan para peserta, karena lombanya dihelat sejak pagi hingga pukul sembilan malam, pastinya mereka itu bukan orang-orang yang seperti yang diasumsikan mabuk kecubung yang sedang viral itu yang berhalusinasi, hanya dikait-kaitkan saja," terangnya.
Ditegaskan Ma'rum pihaknya meminta agar masyarakat bijak dalam menggunakan sosial media. "Artinya masyarakat harus bijak dan jangan menyebarkan informasi yang tidak benar, jangan menyebar hoax. Ingat itu bisa dijerat pidana," tegasnya. (*)