Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Krisis Penanganan Sampah di Banjarmasin, Ada yang Nyaris Berkelahi Gara-Gara Sampah

Indra Zakaria • Rabu, 9 April 2025 - 15:15 WIB
MENGGUNUNG: Tumpukan sampah di Pasar Sentra Antasari, Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin Tengah, pasca lebaran. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Radar Banjarmasin)
MENGGUNUNG: Tumpukan sampah di Pasar Sentra Antasari, Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin Tengah, pasca lebaran. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Radar Banjarmasin)

 

Kondisi Pasar Sentra Antasari di Banjarmasin tengah kian kumuh dan kotor pasca libur lebaran. Tumpukan sampah berserakan di sejumlah sudut, menciptakan pemandangan jorok.

Pantauan Radar Banjarmasin pada Senin (7/4), setidaknya tiga titik gunungan sampah. Yakni di blok pasar pisang di belakang pasar, pasar jagung, dan blok pertokoan emas. Paling parah di blok yang disebut pertama. Di titik ini, sampah menjulang hingga sekitar 3 meter. Jalan pun nyaris tertutup.

Menurut pedagang, kondisi ini sudah berlangsung hampir sebulan. Sejak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih ditutup Kementerian Lingkungan Hidup pada pada 1 Februari 2025.

Ketika itu, penumpukan terjadi kendati masih bisa teratasi lewat pengangkutan rutin. Namun pasca Idulfitri, masalahnya kian menjadi-jadi."Baunya sangat membuat tidak nyaman," keluh Madi, salah seorang pedagang buah yang lapaknya berseberangan dengan tumpukan sampah.

Ia mengeluhkan serbuan lalat yang seakan tak ada habisnya. Sudah pasti berdampak pada dagangannya. "Saya merasa pembeli jadi sepi. Dengan adanya gunungan sampah ini, pengunjung pasar jadi malas jalan ke sini," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Farida, pedagang tempe yang berjualan tak jauh dari tumpukan sampah. "Pengunjung yang biasanya berjalan sampai ke belakang pasar kini jauh berkurang. Imbasnya, jualan ikut sepi," tuturnya.

Beralih ke blok pasar jagung, tumpukan sampah menutup sebagian areal parkir. Pendapatan para juru parkir pun merosot. "Pendapatan kami nyaris turun separuh. Biasanya bisa dapat Rp300 ribu per hari, sekarang hanya sekitar Rp150 ribu, karena areal parkirnya tertutup sampah,” ungkap Ahmad Junaidi, salah seorang jukir.

Meski pendapatan berkurang, setoran retribusi ke Dinas Perhubungan (Dishub) tetap harus dibayar penuh. "Sudah satu pekan lebih kondisinya begini. Kami berharap bisa segera ada solusi," ucapnya.

Sementara itu, di area pertokoan emas, situasinya tak kalah mengenaskan. Bau busuk kian menyengat karena ada yang membuang limbah potongan ayam, seperti bulu hingga jeroan.

Menurut Udin, wakar setempat, masyarakat luar yang juga ikut membuang sampah di pasar memperburuk situasi. "Yang buang itu kebanyakan bukan pedagang, tapi masyarakat luar pasar," kata Udin.

Udin mengaku sudah sering menegur mereka, dari cara halus hingga kasar. Tapi tetap saja tak digubris. "Banyak warga yang bandel. Tidak bisa lengah sedikit, pasti ada yang membuang," keluhnya.

"Waktu hari raya, saya cuma tinggal salat ied sebentar, pas balik ke sini sampahnya sudah membeludak," ujarnya. Bahkan, kata dia, tak jarang nyaris terjadi perkelahian hanya karena urusan melarang orang membuang sampah sembarangan. 
"Sampai mau berkelahi cuma gegara sampah saja," gumamnya. (*)

Editor : Indra Zakaria