BARABAI – Musibah banjir masih menjadi mimpi buruk yang menghantui warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) hingga awal tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Damkar HST pada Jumat (16/1/2026), genangan air terpantau masih merendam 10 desa yang tersebar di tiga kecamatan berbeda. Kondisi ini dipicu oleh intensitas hujan yang fluktuatif, di mana penurunan ketinggian air di satu wilayah sering kali diikuti dengan kenaikan debit air di wilayah lainnya.
Kecamatan Labuan Amas Utara menjadi wilayah terdampak paling luas dengan enam desa yang terendam, meliputi Desa Sungai Buluh, Pahalatan, Mantaas, Rantau Bujur, Tabat, dan Binjai Pirua. Sementara itu, genangan air juga masih bertahan di Kecamatan Labuan Amas Selatan tepatnya di Desa Mahang Baru dan Panggang Marak, serta di Kecamatan Pandawan yang mencakup Desa Kayu Rabah dan Mahang Matang Landung. Data BPBD mencatat dampak kerusakan yang cukup masif, di mana terdapat 1.050 rumah yang terdampak secara langsung dan lebih dari 2.000 bangunan rumah lainnya kemasukan air hingga ke dalam ruangan.
Dampak sosial dari bencana ini dirasakan oleh sedikitnya 3.250 jiwa warga yang terdampak langsung, sementara ribuan jiwa lainnya terpaksa bertahan di dalam rumah yang terkepung air. Banjir juga melumpuhkan berbagai fasilitas vital masyarakat, mulai dari 33 unit sekolah, 12 tempat ibadah, 3 puskesmas, hingga kantor pemerintahan dan pasar tradisional. Kelumpuhan ini membuat aktivitas ekonomi dan pendidikan di desa-desa tersebut terhenti total, memaksa warga untuk beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas.
Warga di Desa Kayu Rabah mengungkapkan rasa pasrah mereka karena banjir telah merendam jalan dan pemukiman selama hampir setengah bulan. Akses transportasi darat kini digantikan oleh perahu sebagai satu-satunya sarana untuk bergerak keluar rumah. Meskipun hingga saat ini belum ada warga yang memutuskan untuk mengungsi ke posko darurat, bantuan logistik dari pemerintah daerah mulai didistribusikan secara bertahap. Masyarakat kini hanya bisa berharap intensitas hujan segera menurun agar mereka dapat kembali beraktivitas normal dan keluar dari kepungan banjir yang kian lama kian menyulitkan. (*)
Editor : Indra Zakaria