Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Misteri Kematian Masal di Pelaihari: Enam Ekor Sapi Bali Terkapar di Kebun Sayur, Pemilik Rugi Rp120 Juta!

Redaksi Prokal • 2026-03-05 06:45:00

GEGER: Penampakan sapi jenis bali yang ditemukan tewas di kebun milik warga di wilayah Desa Pemuda Pelaihari (Foto : Polsek Pelaihari)
GEGER: Penampakan sapi jenis bali yang ditemukan tewas di kebun milik warga di wilayah Desa Pemuda Pelaihari (Foto : Polsek Pelaihari)

PELAIHARI – Warga Danau Waringin, Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari, mendadak geger setelah ditemukannya enam ekor sapi jenis Bali dalam kondisi tak bernyawa di sebuah area perkebunan sayur pada Senin (2/3/2026) siang. Kejadian memilukan ini pertama kali diketahui oleh sang pemilik ternak, Sapriani, yang mendapati hewan-hewan peliharaannya sudah membujur kaku di tengah lahan warga. Peristiwa ini pun langsung dilaporkan ke pihak berwajib guna mengungkap penyebab pasti di balik kematian mendadak kawanan sapi tersebut.

Kapolres Tanah Laut (Tala), AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Pelaihari, Iptu Benny Wisnu Wardhany, mengonfirmasi bahwa personel kepolisian telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Berdasarkan hasil pengecekan awal, muncul dugaan kuat bahwa kawanan sapi tersebut mati akibat keracunan. Pihak kepolisian kini tengah mendalami apakah kematian ini disebabkan oleh zat kimia berbahaya yang tidak sengaja termakan atau ada unsur lain yang lebih serius.

Spekulasi sementara mengarah pada kemungkinan sapi-sapi tersebut mengonsumsi tanaman yang baru saja disemprot dengan racun rumput atau bahan kimia pertanian lainnya di lahan perkebunan warga. Mengingat lokasi kejadian berada di lahan milik orang lain, polisi juga berencana menelusuri pemilik lahan guna memastikan kronologi kejadian dan menjamin tidak adanya unsur kesengajaan dalam insiden yang mengakibatkan kerugian materiil hingga Rp120 juta bagi pemilik ternak tersebut.

Menanggapi kejadian ini, Kapolsek Pelaihari memberikan imbauan tegas kepada para pemilik hewan ternak di wilayah Tanah Laut agar tidak lagi melepasliarkan peliharaan mereka tanpa pengawasan. Ia menekankan pentingnya mengikat atau mengandangkan hewan jika tidak memiliki lahan pribadi, serta selalu berkomunikasi dengan pemilik lahan lain jika ingin memanfaatkan area tersebut sebagai lokasi penggembalaan. Langkah penyelidikan hingga kini masih terus berjalan guna memastikan keadilan dan mencegah kejadian serupa kembali terulang di kemudian hari.(*)

Editor : Indra Zakaria