KUALA KAPUAS- Keracunan yang dialami ratusan warga Desa Narahan, Kecamatan Pulau Petak, Kabupaten Kapuas, kini sudah memasuki hari ketiga. Jumlah korban mencapai ratusan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) serius menangani kejadian ini. Status kejadian luar biasa (KLB) ditingkatkan lagi.
"Setelah melihat gejala dalam kejadian ini, maka status KLB kami tingkatkan menjadi tanggap darurat bencana KLB keracunan," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas, Apendi, Minggu (26/5).
Apendi menerangkan, dari kejadian tersebut ada beberapa pasien mengalami sakit yang serius. Penyakitnya beda dengan sebelumnya, tapi belum bisa didiagnosis. Dinas Kesehatan sudah mengadakan dua kali rapat untuk penanganan dan evaluasi ke depan. Karena itu, statusnya ditingkatkan.
"Kami terus melakukan penanganan yang maksimal dan dibantu stakeholder lainnya," ucapnya.
Menurut Kadinkes, keracunan ini bersumber dari 350 kotak nasi yang disediakan dalam acara buka bersama Kamis (23/5) lalu. Diperkirakan 350 orang terpapar atau terkena keracunan. Namun, lanjutnya, jumlah yang mengalami bisa sejumlah itu atau kurang. Tergantung kekuatan daya tahan tubuh seseorang.
"Terjadi keluhan pasien tentang kesehatan, yakni mual, sakit kepala, sering BAB, dan demam. Saat ini sudah ada 290 orang yang menjadi korban dan dirawat di RSUD dr Soemarno Sosroatmodjo Kapuas, sedangkan 90 orang lainnya sudah dipulangkan karena status hijau atau membaik," bebernya.
Adanya kejadian ini, maka observasi terhadap pasien dilakukan di RSUD Kapuas. Sulit untuk dilakukan langsung di lokasikarena pertimbangan kondisi geografis yang cukup sulit dijangkau. Selain itu, bisa mempermudah dalam koordinasi untuk ketersediaan tenaga medis maupun obat-obatan.
"Kami bersama kepolisian sudah mengambil sampel makanan dan dibawa ke BPOM Palangka Raya. Hasilnya akan diketahui satu minggu kemudian," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangaan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Panahatan Sinaga membenarkan peningkatan status penanganan keracunan, dari KLB menjadi tanggap darurat bencana KLB. Dikatakannya, peningkatan status itu bermaksud agar penanganan semakin maksimal.
"Artinya penanganan nanti bisa melibatkan semua stakeholder, sehingga cepat untuk mengatasinya. Apalagi korbannya sudah mencapai 290 orang," ucap Panahatan Sinaga.
Kasus Keracunan Masih Diselidiki
Kasus keracunan massal yang terjadi di Kabupaten Kapuas masih dalam proses pemeriksaan. Dalam artian, belum bisa diketahui pasti penyebab keracunan tersebut. Pemerintah provinsi (pemprov) siap menangani jika memang kabupaten sudah tak mampu mengatasi.
“Terkait keracunan di Kapuas, memang sudah dinyatakan KLB. Seandainya Kapuas sudah tidak bisa menangani, maka pemprov siap melakukan penanganan melalui RSUD dr Doris Sylvanus,” kata Sekda Kalteng Fahrizal Fitri saat diwawancarai di Istana Isen Mulang, Sabtu malam (25/5).
Diungkapkannya, pemprov meminta pihak kepolisian untuk memproses lebih lanjut kasus ini. BPOM pun sudah ke lokasi untuk mengambil sample. “Saya sudah mengonfirmasi kadinkes Kalteng terkait hal ini. Kemungkinan karena proses pengolahan makanannya. Kasus seperti ini biasanya terjadi di daerah-daerah pertanian yang banyak menggunakan pestisida,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng Suyuti Syamsul mengatakan, untuk sementara pihaknya fokus dalam penanganan KLB-nya. Untuk jangka panjang ke depan, pihaknya akan menyiapkan langkah-langkah strategis agar kasus serupa tidak terjadi kembali.
“Di Kabupaten Kapuas sering terjadi hal seperti ini. berdasarkan data yang kami miliki, hanya tahun 2007 yang tidak ada alias alfa dari kasus keracuan. Hal ini perlu menjadi perhatian. Kami sedang mencari sebab permasalahannya,” jelasnya.
Memang, kata Suyuti, makanan yang disiapkan dalam jumlah besar dan secara bersama-sama, sangat berisiko terjadi pencemaran, baik karena bahan kimia maupun bakteri mikroorganisme. Kasus seperti ini sering terjadi di desa berbasis pertanian padi.
”Saya menduga keracunan ini terjadi karena makanan tercemar oleh pestisida atau insektisida saat proses pengolahannya,” tambahnya.
Diakuinya, sampai saat ini Dinkes masih belum mengetahui secara pasti penyebab keracunan tersebut, karena beberapa sampel masih diperiksa di Kota Palangka Raya dan di Kota Banjarmasin. Karena itu, langkah yang bisa diambil untuk saat ini adalah dengan pemberian obat dan infus.
“Tim kami sudah ke lokasi untuk memberikan obat. Saat ini yang bisa kami lakukan adalah penanganan melalui pemberian obat dan infus,” pungkasnya. (alh/abw/ce/ala)
Editor : izak-Indra Zakaria