Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jualan Kembang Api di Palangka Raya, Pedagang Ngaku Tak Menjual kepada Pembeli Anak tanpa Didampingi Orangtua

izak-Indra Zakaria • 2023-12-29 13:41:30
Photo
Photo

Pedagang kembang api dan terompet bermunculan lagi. Kehadiran pedagang musiman ini menjadi pertanda tahun segera berganti. Setiap akhir tahun mereka merauh cuan atau untung dari berjualan kembang api.

 

MUTOHAROH, Palangka Raya

 

KAMIS sore (28/12), pedagang kembang api dan terompet mulai membuka lapaknya, mulai yang berlokasi di Jalan G. Obos, Yos Sudarso hingga sepanjang Jalan Tjilik Riwut. Ahmad Kurnain salah satu pedang kembang api yang berlokasi tepat di depan gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jalan Tjilik Riwut mengatakan, saat ini antusias masyarakat membeli kembali api sudah mulai terlihat.

Dikatakan Ahmad Kurnain, banyak masyarakat muali dari anak-anak hingga orang dewasa berdatangan untuk membeli kembang api di lapaknya. Meski sudah banyak masyarakat yang membeli kembang api pria 40 tahun itu mengatakan puncak ramai masyarakat membeli kembang api adalah saat tepat malam pergantian tahun.

“Kalo kita sudah mulai buka itu sejak tanggal 22 Desember sampai tanggal 2 Januari nanti, dan kita buka sejak pagi hingga jam 12 malam, dan sejak tanggal 25 Desember atau mendekati Natal sudah banyak orang beli tapi, yang paling ramai itu saat malam pergantian tahun itu bisa sampai antri,” ucapnya, kemarin.

Untuk menghadapi antusiasme masyarakat pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai sopir kontainer itu juga melibatkan keluarganya, mulai dari anaknya hingga saudara. Menjadi pedang kembang api sudah dilakoni sejak tahun 1990, pasang surut sudah dirasakannya. Pria asli Kota Palangka Raya itu mengatakan penjualan kembang api selalu mengalami kenaikan, tetapi saat covid semuanya merosot hingga 60 persen. Namun sejak covid berakhir penjualan kembang api mulai mengalami kenaikan lagi. Dan diharapkan tahun ini dapat seperti tahun sebelum covid, yang mana kembang api dapat terjual semua hingga 100 persen.

“Kalo omzet setiap tahun itu mengalami kenaikan pasti itu, tapi kalon pas covid semuanya turun, paling kalo di persenkan iti hanya sekitar 40 persen saja kita dapatnya, kalo sejak tahun lalu itukan sudah dibuka jadi sudah mulai naik, dan harapnya kita ingin bisa seperti tahun sebelumnya 100 persenlah keuntungannya,” ucap Ahmad sambil tersenyum.

Ahmad juga mengatakan bahwa sebelum berjuang di depan KNPI, dirinya berjuang di depan TVRI namun saat ini karena sudah tidak diizinkan sehingga dirinya memilih untuk berjuang di depan KNPI sejak 10 tahun lalu. Kembang api yang dijualnya juga sudah mengantongi izin dari kepolisian, kembang api yang dijual dengan harga mulai Rp30 ribu hingga Rp100 ribu hanya boleh dibeli oleh orang dewasa atau anak yang didampingi oleh orang tuanya. Ahmad tidak akan melayani anak-anak yang membeli kembang api yang berbahaya tampan sepengetahuan orang tua.

“Untuk yang diluncurkan ke langit dari yang lima ledakan dengan harga Rp 30 ribu sampai yang Rp 100 ribu itu cuman boleh orang dewasa aja yang beli atau anak yang didampingi orang tuanya, semua kembang api yang dijual ini ada izinnya, jadi kalo anak-anak yang beli tidak akan kita beri kalo tidak ada orang tuanya, kecuali mereka beli yang kecil-kecil seperti kembang api gangsing yang harganya Rp 10 ribu, atau yang dilempar yang kena harga Rp 15 ribu itu boleh, tapi kalo yang besar itu tidak boleh jika tidak ada orang tua atau orang dewasa,” tegasnya.

Langkah itu diambil untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Ahmad tidak mau menanggung resiko apabila ada anak yang membeli kembang api yang besar namun tidak ada pengawasan dari orang yang lebih dewasa atau orang tuanya. Tidak hanya masyarakat para pedagang kembang api lainnya juga tidak jarang membeli dagangannya dari Ahmad, ia berkata banyak pedagang lainnya yang memegang langganan juga membeli di lapaknya. Sistem yang diterapkan oleh Ahmad hanya menghitung dagangan yang terjual saja, dan yang tidak terjual akan dikembalikan ke toko tempatnya membeli.

“Kita beli dari toko kembang api yang lumayan besar, dan barang ini berasal dari Jawa yang dibawa lewat Banjarmasin, kalo berbicara rugi sebenarnya enggak juga, karena kita sistemnya yang terjual saja, jadi yang tidak terjual kita kembalikan ke tokonya, tapi harus rapi dan tidak terbuka di plastiknya, kalo sudah terbuka itu tidak bisa lagi digunakan atau dijual ditahun depan, jadi sebisa mungkin tetap rapat dan tidak basah,” ujarnya.

Tidak hanya yang senilai ratusan ribu saja, Ahmad juga menjual yang harganya mencapai Rp 6 juta, namun kembang api itu jarang diminati. Tetapi kadang kala ada juga yang membelinya, dia berkata yang bisanya beli kembang api dengan harga mahal itu memang orang yang memiliki acara tertentu. Sehingga menginginkan kembang api yang meriah. (*/ala)

Editor : izak-Indra Zakaria