Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kotim Masuki Masa Transisi Kemarau, BMKG Ingatkan Kerawanan Karhutla di Lahan Gambut

Redaksi Prokal • Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:00 WIB
Kebakaran lahan di wilayah Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kamis (Kamis (15/1/2026). (BPBD Kotim)
Kebakaran lahan di wilayah Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kamis (Kamis (15/1/2026). (BPBD Kotim)

SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur (Kotim) memberikan peringatan dini terkait perubahan cuaca di wilayah tersebut. Kotim kini mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau, yang ditandai dengan menurunnya intensitas curah hujan secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut dengan cuaca yang didominasi cerah berawan, meski sesekali masih muncul hujan bersifat lokal dan berdurasi singkat.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim, Rizaldo Raditya Pratama, menjelaskan bahwa hujan singkat yang terjadi belakangan ini belum cukup efektif untuk membasahi lahan secara optimal, terutama pada lapisan dalam tanah. Hal ini menjadi perhatian serius karena karakteristik lahan di Kotim yang didominasi gambut sangat rawan terbakar ketika permukaannya mulai mengering. Rizaldo menekankan bahwa kekeringan pada lahan gambut bisa mencapai bagian dalam tanah, sehingga pemicu api sekecil apa pun dapat dengan cepat menyebabkan kebakaran yang sulit dikendalikan.

Berdasarkan data historis tahun 2025, wilayah Telaga Antang dan Antang Kalang menjadi daerah dengan titik panas tertinggi dan tingkat kerawanan karhutla yang besar. Namun, pemantauan terbaru menunjukkan titik panas mulai merambah ke wilayah selatan seperti Kecamatan Teluk Sampit dan Telawang. Pergerakan titik panas ini sejalan dengan prakiraan bahwa musim kemarau akan mulai terasa secara merata pada Februari hingga Maret, dengan kemungkinan puncak musim yang masih dipantau dinamis hingga bulan April 2026.

Terkait perbandingan dengan tahun sebelumnya, BMKG mencatat bahwa kemarau tahun lalu cenderung singkat karena tingginya suplai uap air. Namun, untuk tahun 2026 ini, kajian mendalam masih terus dilakukan untuk menentukan durasi dan tingkat kekeringannya. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra dan dilarang keras melakukan aktivitas pembakaran lahan. BMKG menegaskan bahwa hujan ringan yang terjadi saat ini hanyalah pembasahan permukaan dan tidak serta-merta menurunkan risiko kebakaran lahan secara keseluruhan.(*)

Editor : Indra Zakaria