PALANGKA RAYA – Kondisi kesehatan mental generasi muda di Kalimantan Tengah kini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya kompleksitas tantangan yang dihadapi anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Fase perkembangan yang rentan terhadap tekanan psikologis ini diperburuk oleh tingginya angka kekerasan terhadap anak yang berdampak langsung pada stabilitas emosional mereka. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kalteng, dr. Linae Victoria Aden, mengungkapkan bahwa tekanan tersebut muncul dari berbagai lini, mulai dari tuntutan akademik, dinamika keluarga, pergaulan sosial, hingga pengaruh negatif media sosial.
Menurut Linae, paparan tekanan yang berlebihan, perundungan, serta minimnya ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dapat memicu gangguan kesehatan mental yang serius jika tidak segera ditangani. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) tahun 2025, angka kekerasan terhadap anak di Kalimantan Tengah masih sangat memprihatinkan. Kekerasan seksual tercatat sebagai jenis kasus terbanyak dengan total 199 laporan, disusul oleh kekerasan psikis sebanyak 132 kasus, dan kekerasan fisik sebanyak 115 kasus. Selain itu, terdapat pula temuan kasus penelantaran, eksploitasi, hingga trafficking yang tersebar di berbagai wilayah.
Sebaran kasus ini merata di hampir seluruh kabupaten dan kota, dengan laporan tertinggi tercatat di Kotawaringin Barat, diikuti Barito Selatan, Kapuas, Katingan, serta Kota Palangka Raya. Kondisi ini mencerminkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah tantangan nyata yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Dampak dari kekerasan tersebut, terutama kategori psikis dan seksual, sangat memengaruhi kesehatan mental korban. Anak-anak yang menjadi korban berisiko tinggi mengalami gangguan kecemasan, stres berkepanjangan, depresi, kesulitan mengelola emosi, hingga perilaku menarik diri dari lingkungan sosial.
Lebih lanjut, Linae menjelaskan bahwa tanpa dukungan psikososial yang memadai, anak-anak yang tertekan cenderung rentan terhadap perilaku berisiko, termasuk tindakan menyakiti diri sendiri. Kualitas dukungan di lingkungan terdekat, khususnya keluarga, memegang peranan kunci. Lemahnya komunikasi dan kurangnya pendampingan orang tua sering kali memperburuk kondisi psikologis remaja. Oleh karena itu, DP3APPKB Kalteng terus memperkuat berbagai program perlindungan, termasuk penguatan ketahanan keluarga dan pendampingan psikososial bagi para korban.
Sebagai langkah preventif, pemerintah daerah mendorong penerapan pengasuhan positif dan deteksi dini terhadap risiko perundungan maupun permasalahan psikologis lainnya. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sekolah, tenaga kesehatan, serta aparat penegak hukum terus dipererat guna menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Melalui upaya terpadu ini, diharapkan anak-anak dan remaja di Kalimantan Tengah dapat tumbuh secara optimal tanpa stigma dan bebas dari bayang-bayang gangguan kesehatan mental yang merusak masa depan mereka. (zia/ala)
Editor : Indra Zakaria